Orang
tidak akan pernah mengetahui ke mana akhirnya takdir membawa, sebelum akhirnya
dia merasakan dan menemukan ‘hal ini’ lah yang aku mau. Pencarian jati diri
seseorang memiliki langkah mereka masing-masing. Orang harus mencari passion
mereka baru tahu apa yang sebenarnya menjadi alasan mereka terlahir di dunia
ini. Kadang kala antara passion dengan impian tidak berjalan seiringan.
Aku
sendiri sempat merasa hilang arah dan tidak tahu mau ke mana sebenarnya kaki
ini ingin melangkah. Gadis-gadis seumuranku biasanya sudah mempunyai seseorang
dalam hidupnya atau bahkan mungkin sudah menikah dengan pujaan hatinya.
Sedangkan aku, masih tetap berdiri di tempat yang sama tidak bisa berjalan apa
lagi berlari ke arah yang menjadi tujuan hidup.
Kebanyakan
orang tua akan mulai bertanya ke mana anak gadisnya akan pergi ketika sudah
mencapai pertengahan 20 tahun. Hal ini juga yang terjadi pada diriku.
Pertanyaan paling menohok ketika mamaku mulai bertanya, “kapan mau lulus? Terus
kalau udah lulus mau ngapain? Terus nikahnya kapan?”. Mungkin untuk pertanyaan
pertama dan kedua aku sudah bisa menjawabnya, aku akan lulus secepatnya dan
kemudian melanjutkan S2, bekerja sesudahnya. Tapi untuk pertanyaan yang
terakhir, jujur aku tidak bisa menjawab pasti kapan.
Usiaku
24 ketika menulis kisah ini. Kisah yang ingin aku tuliskan untuk mengenang kehidupanku
yang biasa-biasa saja namun bermakna untuk orang di sekitarku. Aku baru akan
lulus SMA ketika pertanyaan pertama orang tuaku membuat aku bingung. “Mau
kuliah di mana, dek? Ngambil apa? Terus entar kalau lulus mau jadi apa?”.
Jawabannya, aku juga ragu. Ketika lulus SMA dan mencapai saat aku sudah bosan
harus mengikuti semua keinginan orang tuaku, akhirnya aku memutuskan aku hanya
ingin melakukan apa yang aku mau. Ketika saat itu, aku benar-benar menyukai
bahasa asing dan ingin mempelajari budaya asing dan kalau ada rejeki, aku ingin
melanjutkan ke luar negeri. Sejak awal memutuskan itu, jujur aku ingin masuk ke
kelas bahasa yang tersedia di sekolahku, tapi sekali lagi orang tua tidak
mengijinkan dan lebih menginginkan aku mengambil kelas IPA, walaupun sekarang
terbukti pelajaran di kelas IPA tidak semua aku gunakan dalam hidup. Such as
wasting time.
Kalau
mengingat masa itu, aku jujur belum menentukan ke mana arah hidupku. Kalau
harus jujur aku selalu menyukai dunia seni, entah itu menari, menyanyi, bermain
musik, design, dan sebagainya. Tapi keinginan itu sekali lagi tidak mendapatkan
restu orang tua. Aku ingat orang tuaku pernah bertanya, “memangnya anak-anak
yang mengambil seni musik atau seni tari di kampus itu nantinya akan jadi
apa?”, aku? Menjawab pun percuma, karena jawabanku tidak akan memuaskan mereka.
Pertanyaannya, apakah pekerjaan yang layak akhirnya akan membawa kebahagian
untuk diri mereka? Apakah orang yang hidup dari musik dan tari tidak bisa
menghidupi diri mereka dan keluarga mereka? Apa tidak cukup orang hidup dengan
passion mereka masing-masing. Mungkin mereka akan bilang, “Berhentilah
bermimpi!”, dan aku akan membuktikan pada mereka, aku akan hidup dari mimpiku.
Kehidupan
yang sebenarnya baru aku rasakan ketika akhirnya aku keluar dari rumah, dan
memutuskan untuk kuliah di luar kota Malang, Jogja, kampus biru yang menjadi
idaman banyak remaja. Di Jogja pula aku menemukan jati diriku, menemukan apa
yang disebut teman, apa yang disebut kehidupan, apa yang disebut kebahagiaan.
Jogja adalah tempat yang aku sebut rumah kedua. Tempat aku pulang, tempat aku
bersandar, tempat aku belajar menjadi lebih dewasa. Bukan bermaksud
meninggalkan Batu, tempat di mana orang tua dan saudaraku tinggal. Tapi, aku
tidak memiliki ikatan batin yang sama seperti yang aku rasakan dengan Jogja.
Maklum saja aku hanya menghabiskan 3 tahun hidup di Batu, sedangkan di Jogja,
ini sudah hampir 5 tahun aku menghabiskan waktu hidupku. Aku benar-benar jatuh
cinta dengan kota ini. Kota yang menciptakan sejuta kenangan, sejuta cita-cita,
sejuta harapan, dan sejuta keingintahunan. Dan di kota ini, ceritaku berawal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar