Tittle : Christmas gift
Cast : Adachi Osamu (Adachin), Nakamura yuichi (Ichi)
Genre : Romance, yaoi [PG13/2S]
Someone POV
Jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 10.00, sudah lewat 30 menit sejak kami janjian hari ini. Kami berjanji akan membeli perlengkapan natal hari ini, dan itu setengah jam yang lalu. Kini sudah 30 menit namun dia tidak datang, bahkan tidak meneleponku juga. Maunya apa sih anak itu. Setidaknya kalau dia terlambat dia bisa menghubungiku terlebih dulu kan, bukannya malah membuatku menuggu sendirian di tengah kerumunan orang seperti ini kan. Awas saja kalau dia datang nanti. Aku ingin tahu apa alasannya. Kalau beralasan syuting atau yang lain-lain, aku akan marah. Memangnya dia saja yang sibuk apa? Aku kan juga sibuk. Dasar menyebalkan!! Ah, untuk apa aku marah-marah seperti ini? Lebih baik aku pulang saja. Kalau yang lain bertanya kenapa pulang dengan tangan kosong, aku tinggal menyalahkan dia.
Author POV
Belum juga mahkluk yang marah-marah melulu ini melangkahkan kaki untuk pulang, dari arah belakang seseorang memanggil namanya kencang, membuat orang yang berlalu lalang di sekelilingnya melihat ke arahnya.
“Siapa kau?”, tanya anak itu dengan nada kesal.
“Jangan marah begitu. Aku kan baru terlambat sebentar.”, rayu temannya.
“Sebentar katamu? Aku sudah 30 menit menunggumu tahu!!”, teriaknya, membuat para pejalan kaki lainnya menoleh ke arah dua mahkluk menyilaukan yang sedang bertengkar.
“Ichi… jangan marah!!! Ku mohon maafkan aku!! Aku akan mentraktirmu dan memberikan apapun untuk hadiah natalmu. Dou?”, rayunya lagi.
“Apa lagi alasanmu sekarang?”, tanya Yuichi kesal.
“Tadi Yuuyan meneleponku. Aku disuruh membelikan sesuatu untuk Yanagi. Makanya aku terlambat, karena harus pulang dulu ke rumah. Kau tahukan jarak lokasi pemotretan dan rumah lalu kesini kan jauh.”, katanya mencari alasan segala macam.
“Adachin… aku malas mendengar alasanmu terus.”, kata Yuichi sembari meninggalkan Adachin.
“Ichi… matte you!!”, teriak Adachi sembari mengejar Yuichi.
Yuichi POV
Dasar jelek. Alasannya banyak sekali. Mana sekarang bawa-bawa nama Yuuyan dan Yanagi pula. Apa maunya coba? Awas saja dia, kalau ketahuan selingkuh. Akan kehajar dia!
“Ichi… kita akan belanja di sini?”, tanyanya tiba-tiba.
“Iya… memangnya kenapa?”, tanyaku bingung.
“Betsuni…”, jawabnya tanpa berani memandang mataku.
Dan kami pun berbelanja untuk persiapan natal kami dan untuk para penghuni D-house yang lainnya. Aku sering bertanya kenapa anggota D-boys begitu banyak. Sampai aku pusing membelikan pesanan mereka. Ini pun aku lakukan karena aku kalah dalam permainan yang kami adakan. Sementara dia memang terpaksa menemaniku karena aku yang memintanya. Lagi pula kebetulan mobilku ada di bengkel, jadi aku bisa memakai mobilnya.
“Kau mau hadiah natal apa tahun ini?”, tanya Adachi saat kami sedang istirahat di starbuck.
“Kau janji akan mengabulkan yang aku minta kan?”, tanyaku meminta kepastian omongannya yang tadi.
“Tentu… asal jangan terlalu mahal dan masih bisa ditangkap akal sehat.”, jawabnya. Aku masih berpikir ketika seseorang pria datang mendekati kami.
“Bagaimana hasilnya? Apa kekasihmu ini hamil?”, tanyanya tiba-tiba. Membuat otakku tak bisa berpikir dengan benar saat ini.
“Apa maksudmu?”, tanyaku bingung.
“Tuan ini tadi membeli alat pengecek kehamilan. Katanya untuk kekasihnya.”, jawab pria itu. Aku menatap tajam mata Adachi yang mulai bergerak gugup.
“Nani??!!”, tanyaku kaget. “Jadi kau punya kekasih lain selain aku?!”, bentakku, hingga hampir semua mata memandang kami bertiga.
“Ichi… aku bisa jelaskan semuanya.”, kata Adachi berusaha menggenggam tanganku, namun kuhempaskan.
“Aku tidak mau melihatmu lagi!”, kataku sembari pergi meninggalkan mereka berdua. Aku marah, sedih, ingin teriak, dan kuharap ini semua mimpi yang tidak nyata.
Adachi POV
“Aku tidak mau melihatmu lagi!”, teriak Yuichi sembari meninggalkanku dan bapak yang tadi menjualkan padaku tes kehamilan titipannya Yuuyan.
“Eh… memangnya bukan untuk dia?”, tanya bapak itu bingung.
“Tentu saja bukan. Dia kan laki-laki mana mungkin bisa hamil!”, kataku sembari mendorong kereta belanja yang ditinggalkan Yuichi begitu saja. Aku melihat handphoneku yang tadi ku letakkan di atas meja setelah dapat telepon dari Shirotan sudah raib. Pasti kebawa olehnya. Sementara tasnya sendiri, tergeletak di dalam kereta belanja kami. Dasar ceroboh!
Dengan terpaksa aku mendorong barang-barang ini ke dalam mobil, padahal ini kan tugasnya. Walaupun aku kekasihnya, aku memang terlampau cuek dengannya. Harusnya aku bisa seperti yuuyan dan yanagi, atau seperti zukki dan arayan, atau bahkan makki dan tomo. Kenapa aku jadi kesal dengan diriku sendiri sih.
Yuichi POV
Aku terus berjalan menuju apartemenku. Jaraknya memang 5 blok dari sini, tapi aku butuh berjalan sekarang. Namun tiba-tiba ponsel di dalam sakuku berbunyi. Bukan ringtone yang biasanya aku pasang. Gantungan handphonenya bukan milikku. Ini kan punya Adachi. Dan aku melihat nama yuuyan muncul di screen.
“Moshi moshi…”, sapaku.
“Moshi moshi… Ichi?? Kau sedang bersama Adachin rupanya. Bisa aku bicara dengannya.”, tanyanya.
“Dia sedang ke toilet. Ada perlu apa?”, tanyaku berusaha mencari alasan.
“Aku mau menyampaikan ucapan terima kasih dari yanagi. Katanya kucingnya memang hamil. Anak bodoh itu entah kapan akan waras. Masak untuk kucing saja butuh alat tes kehamilan. Maaf ya merepotkannya. Tolong sampaikan terima kasih kami.”, katanya sembari menutup teleponnya dan meninggalkanku dalam perasaan serba salah.
Heh, jadi itu titipan yanagi. Kenapa aku punya wakil ketua seperti dia sih. Kapan mahkluk itu berubah??? Sekarang malah membuatku dan adachin jadi salah paham begini. Dasar, yanagi! Ah, handphonenya berbunyi lagi. Eh, nomorku!
“Moshi moshi…”, kataku.
“Kau ada di mana?”, tanyanya dengan nada marah.
“Aku… ada di taman dekat apartement.”, jawabku dengan perasaan menyesal.
“Jangan kemana-mana. Tunggu aku di sana.”, katanya sembari menutup teleponnya.
Aku melangkahkan kaki dengan gontai menuju ayunan yang ada di dekat apartementku. Syukurnya saat ditelpon yuuyan tadi aku sudah separuh perjalanan. Dan di dekat apartement ku memang ada taman bermain seperti ini. Andai aku sedikit saja sabar, mungkin saat ini aku bisa memilih hadiah natalku sendiri. Apa memang karena aku gampang marah ya. Dan dia begitu sabar meladeniku. Ah dia datang!
Author POV
Adachi memarkir mobilnya tepat di depan pintu masuk taman. Apartement Yuichi tinggal 2 blok lagi dari lokasi taman ini. Begitu dia melangkahkan kaki ke dalam taman, dia melihat Yuichi sedang duduk di ayunan taman membelakanginya. Kepalanya menunduk. Dia langsung mendekat dan duduk di bangku ayunan di sebelah Yuichi dan membelakanginya.
“Gomen…”, kata mereka berdua hampir bersamaan. Keduanya langsung menoleh bersamaan karena kebetulan itu.
“Untuk apa kau minta maaf. Kau kan tidak salah.”, kata Yuichi.
“Aku merasa aku kurang peduli sebagai kekasihmu.”, jawab Adachi tanpa memandang Yuichi. Yuichi langsung kaget dan menatap lekat pria di sampingnya.
“Kau tidak perlu minta maaf untuk itu.”, kata Yuichi dengan tetap memandang kekasihnya.
“Tapi, sikapku itu lah yang membuat kita sering salah paham dan akhirnya bertengkar.”, katanya yang sekarang dengan lembut menatap Yuichi tepat di matanya, membuat Yuichi malu dan langsung memalingkan mukanya dan menunduk malu.
“Aku juga minta maaf kalau begitu.”, kata Yuichi.
“Untuk?”, tanya Adachi tanpa mengalihkan pandangannya pada Yuichi.
“Karena aku selalu egois dan hanya memikirkan diriku sendiri. Padahal kau selalu saja sabar menghadapiku. Tapi aku selalu saja memancing pertengkaran dengan sikap egoisku.”, kata Yuichi tanpa berani menatap Adachi. Adachi lalu membelai rambut Yuichi lembut.
“Kalau begitu kita satu sama sekarang.”, kata Adachi sembari tersenyum pada Yuichi, yang dibalas senyuman malu-malu Yuichi. “Omong-omong. Kau belum mengatakan hadiah natalmu.”, lanjut Adachi.
“Bagaimana kalau makan malam romantis.”, kata Yuichi malu-malu.
“Ehhhh??? Kau tidak pernah meminta hal seperti itu.”, kata adachi.
“Sekali-kali kan tidak apa. Kali ini biar aku yang memasak untukmu. Dou?”, tanya Yuichi sembari tersenyum lebar.
“Ii yo…”, kata adachi.
“Kalau kau. Kau mau hadiah natal apa?”, tanya yuichi.
“Tapi sebelumnya aku ingin kau berjanji akan mengabulkan permintaanku.”, sahut adachi langsung.
“bBik. Aku berjanji akan mengabulkannya.”, jawab yuichi tegas.
“Jangan menyesal mengatakannya, ya!”, kata adachi membuat yuichi bingung.
“Memangnya… apa?”, tanya yuichi mulai ragu.
“Aku ingin kau.”, kata adachi singkat.
“Heh???”, tanya yuichi bingung.
“Aku ingin… kau… nakamura yuichi!”, kata adachi tegas.
“Apa maksudmu?”, tanya yuichi bingung.
“Siapkan saja dirimu. Karena kau akan jadi makanan penutupku saat malam natal nanti.”, kata adachi sembari tersenyum penuh arti.
“Heh???”, kini sepertinya yuichi mengerti maksud adachi padanya dan pikirannya membuat pipinya memerah karena malu.
“Ya… kau mau pulang tidak? Aku akan mengantarmu?”, tanya adachi yang kini sudah berada di pintu taman.
“Eh… chotto matte…”, kata yuichi yang langsung bangkit dan mengejar adachi yang menunggunya di pintu gerbang. Begitu sudah berada di sampingnya, adachi langsung mengenggam tangan yuichi lembut. Ini kan sudah musim dingin.
“Ichi… bagaimana kalau hadiah natalku kuambil sekarang?”, kata adachi ketika mengantarkan yuichi di depan apartementnya.
“Eh???? Kenapa tiba-tiba?? Aku bahkan belum menyiapkan diriku.”, kata yuichi panik, yang membuat adachi makin tersenyum kesenangan karena berhasil menggoda kekasihnya.
“Apa bedanya hari ini dan besok. Malam natal kan sudah besok.”, lanjutnya makin membuat yuichi kalang kabut. “Santai saja, aku akan melakukannya pelan-pelan.”, kata adachi, semakin membuat yuichi bingung.
Adachi menarik tubuh yuichi ke dalam pelukannya dan mendekatkan bibirnya di bibir yuichi. Yuichi dengan paniknya akhirnya menutup matanya. Yuichi dapat merasakan nafas adachi di bibirnya.
“Aho…”, bisik adachi di telinga yuichi membuat mata yuichi terbuka dan melepaskan dirinya dari pelukan adanya.
“Jahat!! Kau berani menggodaku sampai begitu!”, kata yuichi sembari memukul-mukul adachi. Dengan cepat adachi mendaratkan ciumannya langsung di atas bibir yuichi. Membuat mahkluk di depannya itu terdiam kaget bahkan hampir tidak dapat bernafas karenanya.
“Aku akan mengambil hadiah natalku besok. Jadi siapkan dirimu.”, kata adachi begitu melepas ciumannya dan mengacak-acak rambut yuichi sangking gemasnya. Sebelum benar-benar pergi, adachi mencium kening yuichi mesra. Membuat yuichi berbunga-bunga sekaligus gugup. “O yasumi…”, kata adachi sebelum menutup pintu rumah yuichi.
“O yasumi…”, balas yuichi. Begitu adachi pergi mukanya langsung berubah merah dan rasa gugupnya makin bertambah karena tidak tahu apa yang akan terjadi besok.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar