Tittle : Dessert [NC21/1shoot]
Cast : Suzuki Hiroki (Zukki), Araki Hirofumi (Arayan)
Genre : Romance, Yaoi
Matahari menerobos dari jendela yang sengaja dibuka lebar-lebar oleh pemiliknya. Sang pemilik sedang tertidur di atas sofanya dan sibuk membaca buku resep masakan. Hari ini adalah hari jadinya dengan kekasihnya dan dia ingin memberikan makan malam romantis di rumahnya. Pikirannya sibuk memikirkan apa yang disukai kekasihnya. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk membuat steak dan pudding untuk nanti malam.
Dia memutuskan untuk berbelanja sekaligus menunggu kekasihnya yang sekarang sedang sibuk pemotretan. Tanpa menggunakan riasan apa-apa, dia langsung menyetir mobilnya masuk ke dalam pusat perbelanjaan. Dari pada harus ke pasar, dan sibuk menawar, lebih baik langsung ke supermarket saja, pikirnya. Dengan catatan di tangan dia membeli semua bahan masakan yang dibutuhkan untuk membuat masakan yang dirancangnya. Setelah berjalan berputar-putar di dalam supermarket, matanya tertuju pada satu bagian. Di sisi itu terdapat segala bentuk minuman beralkohol dan tentunya ada botol-botol wine berbagai tahun dan sampange. Perlu waktu lama hingga dia memutuskan untuk membeli sebotol wine untuknya dan kekasihnya nanti malam. Entah apa yang dipikirkan kekasihnya ketika melihatnya melakukan hal ini. Karena dai tahu pasti kekasihnya bukan tipe orang yang romantis dan terlampau cuek untuk masalah seperti ini.
Ketika akan membayar, tiba-tiba handphonenya berbunyi, dari kekasihnya. “Moshi moshi.”, sapanya langusng. “Nani??? Kau akan telat? Tidak apa kok, ini kan pekerjaannmu. Tapi jangan terlampau malam pulangnya. Aku akan menunggumu.”, jawabnya dengan nada sesabar mungkin, sejujurnya hatinya merasa kecewa. Mungkinkah kekasihnya melupakan hari istimewa mereka. Padahal dia sudah merencanakan hari ini sejak beberapa hari kemarin. Dan sekarang kekasihnya meneleponnya dan mengatakan akan pulang terlambat karena pekerjaannya. Rasanya menyebalkan. Namun dia tetap bersabar dan membayar semua belanjaannya, walaupun dia tidak yakin akan memakannya bersama sang kekasih atau tidak.
Seperti rencana awal, dia memasak makan malam untuk dirinya dan kekasihnya. Begitu seluruh makanan telah dia buat, dengan rasa sedih dia menutupinya dengan alumunium oil dan menyimpannya di lemari penghangat makanan. Malam ini mungkin dia tidak akan makan, walaupun sudah memasak.
“Zukki, kau benar-benar mengecewakanku.”, katanya pelan sembari memasukki kamarnya, dan tertidur.
Jam di dinding menunjukkan pukul 11 malam. Belum larut malam namun dirinya yang masih setengah tertidur dapat mendengar kesibukan di luar kamar. Kecemasan pun melanda. Apa mungkin ada pencuri, pikirnya takut. Walaupun dia laki-laki, namun hampir setiap hari dia selalu dilindungi oleh teman-temannya. Kerugian memiliki wajah cantik, menurut teman-temannya. Dengan perasaan was-was, dia mengambil pemukul kasti di ujung ruangan sembari mengendap-mengendap menuju ke pintu kamarnya. Dengan pemukul di tangannya, dia membuka pintu dan melihat ruangan tengah rumahnya menyala temaram bukan dari lampu namun karena cahaya yang lain. Tetap dengan hati-hati, dia melangkah keluar menuju living room rumahnya. Betapa kagetnya dia saat menemukan sesosok pria sedang sibuk menata di meja makannya. Pria itu membelakanginya hingga tidak dapat melihat kahadirannya. Namun dia tahu pasti siapa yang ada di hadapannya. Pria yang seharian ini di tunggunya. Zukki.
“Kau sudah pulang?”, tanyanya mengagetkan Zukki yang sedari tadi sibuk melakukan sesuatu di meja makan mereka.
“Arayan… maaf membuatmu terbangun.”, kata Zukki gugup sembari mencoba menutupi meja makan di belakangnya.
“Apa yang kau sembunyikan, hah?”, tanya Araki menatap tajam mahkluk di hadapannya sembari mendekati Zukki . Zukki hanya mampu menghindari tatapan Araki namun tetap berusaha menutupi meja makan.
“Nandemonai.”, jawab Zukki berusaha untuk tetap tidak jujur pada Araki. Namun terlambat, Araki sudah berada di hadapannya dan mencoba menggeser tubuh Zukki yang menutupi meja makan. Betapa shocknya dia, begitu melihat meja makan mereka telah ditata dengan cantik. Bahkan bunga mawar merah kesukaannya pun turut mempercantik meja makan mereka. Araki berusaha mati-matian untuk menahan air mata harunya.
“Ku pikir kau sudah lupa?”, katanya tanpa berani menatap Zukki. Pria di belakangnya langsung memeluknya erat dan menyandarkan kepalanya di bahu Araki.
“Mana mungkin aku melupakan hari ini. Kita merayakannya sejak dua tahun lalu kan.”, jawab Zukki berbisik di telinga Araki, hingga membuat lelaki di pelukannya bergidik geli. “Maaf, telah membuatmu kecewa tadi.”, lanjutnya sembari mempererat pelukannya.
“Aku akan mengambil masakannya. Kau tunggulah di sini.”, kata Araki sembari menghapus air mata harunya yang sudah tergantung di pelupuk matanya. Dia berjalan menuju dapur dan mengambil steak yang sudah ia masak dari tadi sore dan botol wine serta gelas-gelasnya.
“Kau butuh bantuan?”, tanya Zukki yang melihat kekasihnya sepertinya sedang kerepotan.
“Chotto… onegaishimasu.”, kata Araki malu. Namun tangannya sudah cukup penuh hanya dengan dua piring di tangannya.
“Kau membeli wine?”, tanya Zukki ketika melihat barang yang harus dibawanya.
“Kita kan jarang minum wine. Masak setiap hari hanya bir saja.”, jawab Araki yang kini sudah menata piring-piring di meja makan. Zukki hanya mengikutinya dan meletakkan kedua gelas dan wine botol wine itu di atas meja.
Akhirnya makan malam yang telah ditunggu-tunggu oleh Araki terjadi juga. Dia sempat berpikir bahwa malam ini dia tidak akan bertemu dengan Zukki namun ternyata kekasihnya ini telah menyiapkan surprise yang bahkan mampu membuatnya meneteskan air mata haru. Mereka bercakap-cakap hingga jam di ruangan temaram itu menunjukkan pukul 12 malam. Terlalu larut untuk makan malam, namun lebih baik dari pada tidak sama sekali.
“Masih ada pudding di kulkas, aku akan mengambilnya.”, kata Araki sembari beranjak dari kursinya. Namun tangannya di tahan kuat Zukki. Matanya bertanya-tanya kenapa, namun bukan jawabn yang dia dapatkan, Zukki malah menarik tangannya hingga tubuhnya hilang keseimbangan dan jatuh di atas tubuh Zukki yang memang lebih besar darinya.
“Aku tidak butuh pudding sebagai dessert.”, kata Zukki berbisik di telinga Araki mesra.
“Sejak kapan kau tidak suka pudding?”, tanya Araki bingung.
“Aku memang suka pudding, tapi aku lebih memlih dirimu sebagai dessert malam ini.”, kata Zukki sembari tersenyum devil di hadapan Araki.
“Eh…”, Araki tidak sempat membalas ucapan Zukki, karena bibir Zukki telah mendarat lembut di bibirnya. Ciumannya sangat lembut dan dalam. Mata Araki yang awalnya kaget sekarang terlihat sangat menikmati ciuman mereka. Tangannya yang semula di genggaman Zukki kini terlepas dan sudah terkalung di leher Zukki. Ciuman yang semula dalam kini telah berubah penuh rasa haus dan lapar. Permainan yang semula di dominasi oleh Zukki kini menjadi seimbang karena tangan Araki kini juga tidak mau diam dan mulai mengelus punggung Zukki. Tangan Zukki yang semula berada di pinggang Araki pun kini semakin berani menyelinap ke dalam kaos yang dipakai Araki.
Mereka manghentikan ciuman yang mulai panas itu dengan nafas yang sama-sama memburu. Keduanya sama-sama mengetahui apa yang masing-masing mereka inginkan. Dengan perlahan mereka berdiri dari kursi. Tangan Zukki melepas pelukannya dan menggendong Araki dengan posisi seorang putri. “Sepertinya kita akan telat kerja besok pagi, sayang.”, kata Zukki sambil tersenyum penuh arti lalu membawa tubuh Araki menuju ke kamar mereka dan membaringkannya di atas ranjang.
“Zukki… nanka…”, kata Araki sembari menatap lembut Zukki yang berada di atasnya.
“Hem???”, tanya Zukki sembari mengusap lembut muka Araki.
“Zukki ga suki.”, katanya pelan saat Zukki mencium lehernya.
“Ore mo. Arayan ga suki.”, katanya sembari menatap mata Araki dalam dan mendekatkan bibirnya pelan di atas bibir Araki. Menciumnya pelan dan lembut. Araki membalas ciumannya perlahan. Dan dengan perlahan tapi pastipun ciuman mereka berubah menjadi makin dalam dan penuh nafsu. Tangan mereka pun tidak tinggal diam dan saling menyentuh tubuh pasangan masing-masing. Tangan mereka menelanjangi satu persatu pakaian yang melekat di tubuh pasangannya.
Ini bukan pertama kali mereka melakukannya namun Araki masih saja malu saat menatap tubuh Zukki yang tanpa cela tersebut. “Mukamu memerah.”, sindir Zukki.
“Tutup mulutmu…”, kata Araki tertahan saat mulutya dikunci oleh bibir kekasihnya. Ciuman Zukki turun menuju leher Araki yang mulus dan meninggalkan beberapa kissmark di sana. Araki hanya bisa melenguh nikmat saat tangan Zukki mulai bermain-main di nipplenya. Bibir Zukki pun memulai berpindah di kedua nipple Araki hingga tubuh Araki mengejang oleh permainan kekasihnya itu. Araki mendesah saat tangan bebas Zukki meraba pelan juniornya yang menegang sejak tadi.
Zukki memainkan junior Araki dengan tangannya. Membuat gerakan naik turun yang membuat kekasihnya mendesah makin keras. “Zukki, stop teasing me!!”, teriak Araki di tengah desahannya. Setelah mengatakannya mulut Zukki langsung menghisap junior Araki dan memainkan maju mundur dengan mulutnya. Tubuh Araki mengejang karena perlakuan tiba-tiba kekasihnya itu. Tangannya menjambak rambut Zukki yang masih sibuk bermain-main dengan juniornya.
“ah… ah… ahh… Zukki… yamette…”, erang Araki yang didengar Zukki sebagai permintaan untuk meneruskan permainannya. Zukki melepaskan junior Araki dan beralih ke bibir tipis Araki. Bibirnya menghisap bibir bawah Araki hingga lidahnya bisa ikut bermain dalam mulut kekasihnya. Araki hanya bisa mendesah dalam ciuman panas mereka hingga kehabisan nafas. Tangannya tidak tinggal diam juga saat ini, tangannya mengelus lembut punggung Zukki, membuantnya makin terangsang. Tangan Zukki yang bebas kemudian menelusuri tubuh mulus Araki hingga ke entrance Araki dan memasukkan satu jarinya di sana. Araki memekik keras dan tangannya mempererat pelukannya hingga tubuh Zukki jatuh menimpa tubuhnya. Kedua junior mereka saling menekan memmbuat nafsu Zukki bertambah. Sembari memasukkan jari keduanya, dia menggesekkan juniornya hingga Araki kembali mendesah tak karuan. Zukki mengeluarkan jarinya keluar masuk hingga membuat kepala Araki melesak ke dalam bantal. Araki menggigit bibir bawahnya merasakan nikmat dan perih dalam sekali kesempatan. Walau bukan untuk pertama kalinya, namun tetap menyakitkan baginya.
Zukki mengeluar masukkan jarinya setelah menambahnya dengan satu jari lagi. Araki pun sepertinya sudah siap dengan yang akan memasukinya sekarang. Zukki menarik ketiga jarinya keluar dan mencium bibir mereka Araki sekali lagi sembari memasukkan juniornya ke dalam Araki. Dalam satu kali sentakan dan erangan Araki dia berhasil memasukkan juniornya yang sudah menegang sejak tadi ke dalam tubuh kekasihnya. Dia berhenti sejenak untuk membiarkan Araki terbiasa dengan juniornya. Begitu Araki berhenti mengerang, dia mulai memaju mundurkan pinggulnya mencari titik kenikmatannya dan titik kenikmatan Araki.
Araki yang semulai mengerang kesakitan kini mulai mendesah nikmat membuat Zukki makin bernafsu karena desahan seksi pria di bawahnya. “Baby, you’re so tight… uhh… ahh…”, kata Zukki di tengah-tengah aksinya.
“Urusee…ahh… ahh… ahh…”, teriak Araki yang membuat Zukki tersenyum setan. Berkali-kali juga dia menggesekkan juniornya di titik nikmat Araki. Membuat Araki mendongakkan kepalanya nikmat. Keringat menetes dari keduanya. Ranjang yang mereka pergunakan pun turut berderit karena permainan panas mereka.
“Baby, I’m coming…”, teriak Araki ketika akhirnya mencapai klimaks dan mengeluarkan cairannya di perut Zukki yang masih sibuk memompanya.
“Ore… mo…”, kata Zukki yang akhirnya melepaskan cairannya di dalam Araki dan kemudian rubuh di atas tubuh kekasihnya itu. Dia melepas juniornya dari Araki dan menarik selimut hingga menutupi tubuhnya dan tubuh kekasihnya. AC yang sedari tadi menyalah sepertinya tidak cukup untuk membuat tubuh mereka dingin setelah permainan panas mereka. Kepala Araki bersandar di atas dada bidang Zukki , yang tangannya memeluk tubuh Araki lembut.
“Naa~.”, panggil Zukki pelan.
“Nani?”, tanya Araki dengan mata terpejam lelah. Zukki menggeser badannya dan mengambil jaket yang tadi ia kenakan yang kini tidak sengaja tergeletak di pinggir ranjang. Dia mengambil sesuatu dari sakunya dan menggenggam benda kecil itu erat. Araki yang merasa sandarannya berubah kemudian bangkit dan menatap tajam mata Zukki. “Nandesuka?”, tanyanya bingung.
“Pinjam tangan kirimu!”, katanya sembari tersenyum lembut sembari menatap lembut kekasihnya yang kini telah duduk di sampingnya.
“Tangan kiri? Untuk apa?”, tanya Araki bingung.
“Bawel!”, sahut Zukki tidak tahan yang kemudian menarik tangan kiri Araki ke depan matanya. Dia lalu menyelipkan sesuatu di jari manis Araki. Sebuah cincin yang sekali lagi membuat Araki shock dan ingin menangis dibuatnya. “Mulai sekarang, kau hanya milikku. Orang yang melihat cincin ini akan tahu bahwa kau sudah punya seseorang yang akan menjagamu.”, katanya sembari menggenggam tangan Araki erat. “Araya… ore to kekkon shite kudasai.”, lanjutnya sembari memandang tajam mata Araki dalam. Araki hanya tersenyum dan mengangguk pelan diiringin air mata bahagia. Zukki tersenyum mendengar jawban kekasihnya dan kemudian mendekap tubuh mungil Araki erat.
“Doumo… untuk malam yang paling indah ini.”, kata Araki sembari memandang kekasihnya lembut . Pelan Araki mendekatkan bibirnya ke atas bibir Zukki hingga dia terlelap dalam buaian yang memabukkan kekasihnya sekali lagi. Sebuah makanan penutup yang bahkan lebih manis dari sepiriing pudding.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar