Main cast : Lee Hyejin
Jung Yunho
Other Cast : Kim Jaejoong
Kim Saira
Park Yoochun
Shim Changmin
prolog~~~
Seorang gadis terbaring lemah di kamarnya.
Angin bertiup dari jendela yang memang sengaja dia buka.
Matanya sembab kebanyakan mengeluarkan air mata.
Bibirnya membiru.
Mukanya pucat.
Di sampingnya berbaring lelaki yang begitu dia cintai.
Lelaki itu mendekap erat tubuh kurus sang gadis.
Air matanya meleleh tak tertahankan.
"oppa...", panggil gadis itu lirih.
"hem?", jawab sang pria dengan senyum yang dipaksakan.
"sarang heyo...", bisik gadis itu perlahan.
"nado... Nado saranghae", balas si lelaki sembari mengecup lembut bibir si gadis.
"oppa... Aku lelah... Aku tidur dulu ya.", kata gadis itu yang dijawab dengan anggukan lemah dan lelehan air mata si lelaki.
"oppa jangan menangis, aku tak kan pergi ke mana-mana"
"arasso... Tidurlah... Kau lelah kan?"
~~~ *** ~~~
Author POV
"kau putus dengannya?", tanya seorang gadis pada sahabatnya.
"itu bukan urusanmu kan?",
"yaa... Lee hye jin!", teriak gadis itu begitu sadar tak dianggap.
Yang dipanggil hanya meloyor pergi menuju parkiran untuk menjalankan mesin mobilnya.
Belum sempat dia menyalakan mobilnya seorang pria tampan berdiri tepat di depan mobilnya.
Hye jin POV
"yaa... Kau mau apa?", tanyaku tanpa keluar dari mobil.
"aku mau bicara denganmu!", teriaknya dengan muka marah.
"kita sudah berakhir, kenapa tidak kau terima saja keadaan ini?", teriakku kini keluar dari dalam mobil.
"yaa... Kim sai ra, kau mau ikut denganku tidak?", tanyaku pada temanku saira yang sejak tadi hanya dapat terpaku melihat pertengkaran kami.
Tanpa basa basi aku nyalakan mesin mobilku, tanpa menunggu pria itu menyingkir aku jalankan mobilku menerjangnya. Aku tau pria itu tidak sebodoh itu dengan tetap berdiri di tempatnya.
Author pov
Di dalam mobil...
Kedua gadis itu terdiam dalam pikiran mereka masing-masing. Hye jin maupun sai ra sama-sama terdiam.
Hye jin memacu mobilnya dengan kecepatan maksimum.
"yaa... Kau masih mencintainya kan?", tanya sai ra memecah keheningan.
"tidak..."
"kau mungkin bisa membohongi orang lain, tapi tidak aku. Kita berteman sejak kecil, hye jin. Aku tau sifatmu! Kau tidak akan membuang sesuatu yang begitu berharga seperti yunho begitu saja..."
"hentikan!"
"tapi..."
"aku bilang hentikan! Walaupun kita berteman sejak lama, kau tidak bisa membaca hatiku!".
Tiba-tiba hye jin menghentikan mobilnya, tangannya memegang perut kanannya, dengan wajah kesakitan dia mengambil sebotol air mineral dan kapsul dari dalam tasnya. Dengan tergesa-gesa dia meminumnya.
"kau kenapa?", tanya sai ra cemas.
"hanya penyakit bulanan!"
"kau yakin tidak apa-apa?"
"aku antarkan kau pulang!", kata hye jin sembari memacu mobilnya lagi.
Rumah keluarga lee...
Dengan tergesa-gesa, hye jin masuk ke dalam kamarnya.
Dia langsung merebahkan badannya di ranjang.
Tangannya memegang perutnya yang kian nyeri.
Air matanya meleleh menahan sakitnya.
Di rumahnya sepi, hanya ada dia sendiri.
Amma appanya tinggal di jerman sebagai diplomat.
Sementara dia anak tunggal.
Rumah yang sepi menjadi sedikit ramai, karena erangan kesakitan hye jin dari kamarnya.
Flash back...
Sebulan yang lalu...
"jadi bagaimana, ahjussi?".
"hye jin, maafkan paman... Kau menderita kanker hati!".
Bagai tersambar petir, air mata hye jin meleleh begitu saja.
"bagaimana bisa?", tanya hye jin mencoba tegar.
"dimulai dari gangguan fungsi hati... Bla... Bla...", kata dokter park menjelaskan kejadian yang menimpa hye jin.
"orang tuamu harus tau."
"gak boleh, amma appa gak boleh tau. Aku mohon ahjussi."
"tapi hye jin..."
"ahjussi... Aku mohon!"
"baiklah, terserah kau saja! Nanti akan aku suruh yoechun mengantarkan obatmu!"
"gomawo... Ahjussi... Mian merepotkan paman dan yoechun oppa"
flash back end...
Are you good girl...
Tiba-tiba ringtone hye jin berbunyi.
...oppa sarang...
Nama di ponselnya.
"yoboseyo..."
"aku ingin bicara."
"yun ho ssi, berhentilah menggangguku. Aku sudah lelah kau ganggu!"
"hye jin a~ aku mencintaimu..."
"gojimal... Tolong berhentilah menggangguku! Kau benar-benar mengganggu!" kata hye jin sambil menutup ponselnya.
"mian... Mianhae oppa!", tangisnya setelah mematikan ponselnya.
Rumah keluarga kim...
Di dalam kamar, saira tak henti-hentinya memandang ponselnya. Dia menunggu telpon dari hye jin.
Kecemasannya makin menjadi-jadi ketika ponsel sai ra ternyata mati.
"kim sai ra... Kau kenapa?", tanya jaejoong kakak saira.
"ponsel hye jin mati! Aku khawatir oppa"
"dia bukan anak kecil lagi. Dia pasti baik-baik saja!"
"oppa...", rengek sai ra langsung memeluk badan tegap oppanya.
"gwenchana... Omong-omong temanmu itu putus dengan temanku ya?", tanya jaejoong sembari melepas pelukan saira.
"aku tidak tau apa yang dia pikirkan. Aku tau dia sangat mencintai yunho oppa, tapi entah kenapa dia malah mutusin."
"aku kasihan pada yunho. Sejak putus, dia hilang semangat. Seperti mayat hidup!"
"aku tidak tau oppa, mereka pasangan paling serasi di kampus, tapi berakhir begitu saja."
"sepertinya kita harus turun tangan, adikku!", kata jaejoong setelah memikirkan sesuatu.
"apa yang ada di otakmu, oppa?", tanya saira yang dijawab dengan senyuman penuh arti jaejoong...
kampus...
Lee Hye Jin POV
'Ya Tuhan kenapa rasanya sakit sekali?', tanyaku sembari menahan perih di perutku.
"Hyejin a~", panggil seseorang ketika aku sudah berada di tangga.
"Saira?? ada apa?"
"Nanti malam kau ada acara?",
"kenapa memangnya?"
"aku dan appaku ingin mengadakan pesta BBQ di villa kami, sekalian menginap. kau ikut ya? ajak yoochun oppa juga!!!", katanya dengan muka seimut mungkin.
"Heh? kenapa aku harus mengajak sepupuku itu?"
"ayolah... aku mohon...", kay\tanya sembari mengeluarkan muka puss in the bootnya shrek.
"hentikan muka kucingmu itu. nanti aku akan meneleponnya. puas?"
"asyik... kau memang sahabatku yang terbaik."
"yah...", tahanku ketika dia sudah akan beranjak.
"wae?"
"oppamu mengajak yunho?", tanyaku hati-hati.
"entahlah... kata oppaku, mantanmu itu sudah seperti mayat hidup. tinggal dibalut perban saja sudah jadi mummy berjalan kok!"
'mianhae oppa!', kataku dalam hati.
"aish... sudahlah... kita masih harus kuliah kan??", tariknya membawaku menuju kelas.
author POV
dua orang pria sedang berbicara serius di dekat tangga. mata mereka manatap awas dua gadis yang baru saja berlalu. salah satunya memandang gadis bermbut panjang yang sedang berbicara di seberang mereka.
"kau yakin aku akan mendapatkannya lagi?", tanya salah satu pria yang terlihat tampan di balik muka hidup segannya itu.
"semua tergantung padamu. aku dan saira hanya akan membantu menciptakan suasana saja!"
"jaejoong a~... kau memang sahabat terbaikku.", katanya dengan senyum penuh harapan.
"Yunho... bukan maksudku ingin menjatuhkanmu. tapi, kita berdua tau seberapa keras kepalanya hyejin. adikku saja tidak tahu kenapa dia memutuskanmu. jadi, lebih baik, kau bersiap untuk kemungkinan terburuk. Jangan terlalu banyak berharap. lagi pula... kau cukup populer, banyak wanita yang bersedia mengantri untukmu. kau tinggal tunjuk satu saja. siapapun pasti rela."
"jae... aku hanya bisa mencintai hyejin", kata yunho dengan mata ingin membunuh sembari meninggalkan jaejoong dengan perasaan bersalah.
sementara itu di manapun yunho berjalan, setiap mata hawa memandangnya dengan penuh nafsu. siapa yang tidak mengenal jung yunho di kampus ini. pewaris tunggal perusahaan otomotif terkemuka di korea. dari fisik saja, semua wanita di kampus ini juga tidak akan ada yang menolak. baik, bersahaja, tampan, kaya, dermawan, pintar, tuan muda keluarga jung ini merupakan paket lengkap untuk hidup sejahtera di hari tua.
*author mupeng sendiri*
Di villa..
mata yunho tidak bisa berhenti menatap hyejin yang sedang sibuk mebolak-balik daging di samping jaejoong. sementara dia sendiri hanya duduk terdiam di gazebo sebelah kolam renang vila. sementara itu saira juga sedang sibuk melancarkan jurus pdkt dengan sepupu hyejin, yoochun.
sejak pertama kali dikenalkan hyejin, saira memang sudah tertarik dengan mahasiswa kedokteran yang juga sepupu hyejin itu. yoochun pun menanggapi positif pdkt yang dilancarkan saira padanya. terbukti dengan pandangan yoochun yang penuh arti pada saira.
"kau tahu tidak, kalau vilaku ini berpenghuni?", kata jaejoong tiba2 mengagetkan yunho sembari menodorkan sekaleng soda.
"kalau tidak berpenghuni, vilamu pasti berantakan sekarang"
aku serius. dulu sebelum appaku membelinya, beredar rumor dari warga sekitar. katanya dulu di sini pernah terjadi pembunuhan berantai. tapi mayatnya tidak satupun ditemukan. menurut mereka, mayat2 itu dikubur di ruang bawah tanah vila ini..."
"oppa..." teriak saira tiba2
"yah... kenapa kau yang teriak?", tanya jaejoong kaget.
"hentikan ceritamu... "teriak saira semakin merapatkan diri pada yoochun yang tepat berada di sampingnya. tanpa membuang kesempatan, yoochun langsung merangkul tubuh saira erat.
"ya... park yoochun... jangan mengambil kesempatan ya! lepaskan tanganmu dari tubuh adikku." kata jaejoong sembari mencoba melepaskan rangkulan yoochun.
"oppa...", rengek saira melihat tingkah oppanya yang tidak mendukungnya sama seklai.
melihatnya yunho dan hyejin hanya mampu tersenyum melihat tingkah ketiganya. tanpa sadar mata mereka beradu, dengan segera hyejin menglihkan pandangannya ke panggangannya lagi.
malamnya, dengan alasan ingin membeli sikat gigi, saira meminta yoochun untuk menemaninya ke toko yang berjarak cukup jauh dari vila mereka. jaejoong yang sepertinya mengidap sister complex memaksa untuk ikut dan dengan suksesnya meninggalkan hyejin dan yunho berduaan saja di vila.
perasaan canggung ,menyelimuti mereka berdua.
"kami tidak akan lama!", kata saira sebelum pergi. "oppa... jaga temanku baik-baik ya!", pamit saira pada yunho.
begitu mereka benar-benar berdua, tiba-tiba perut hyejin kembali nyeri. dengan tergesa hyejin berlari menuju kamarnya untuk meminum obatnya. karena terus dipanggil oleh yunho, hyejin lupa memasukkan kembali obat-obatnya ke dalam tas dan meninggalkannya tergeletak begitu saja di atas meja.
"kau baik-baik saja?", tanya yunho cemas
"gwenchana...", jawab nya singkat tanpa berani menatap yunho.
"kau yakin tidak apa-apa?"
"tidak perlu membuang waktumu dengan mengkhawatirkanku. aku baik-baik saja!", jawab hyejin dingin.
"kenapa kau berubah seperti ini?", tanya yunho tiba-tiba.
"apa yang berubah? aku merasa sama saja."
"hyejin... kenapa kau jadi sedingin ini padaku?"
"aku tidak...", kata hyejin sembari mencoba menahan perih di perutnya.
"kau tau aku masih mencintaimu kan?", tembak yunho to the point.
"jangan buang-buang waktumu percuma."
"hyejin... katakan itu dengan memandang mataku!"
hyejin POV
dengan ragu ku balikkan badanku menghadapnya. dengan perlahan aku menengadahkan mataku memandang matanya yang selalu membiusku.
"aku... tidak ingin... kau... mencinatiku lagi... tolong berhentilah mencintaiku..." kataku terbata mencoba menahan segala sakit yang ada.
rasa sakit karena penyakit ini, rasa perih karena harus mengatakan kalimat yang menyakitkan itu.
tanpa sadar, air mataku meleleh. matanya menatapku nanar. dengan lembut dia menghapus air mata yang jatuh di pipiku.
"sarang heyo!", bisiknya lembut seraya mengecup bibirku lembut. aku makin mengucurkan air mataku.
tiba-tiba semua terasa gelap... dan aku pun tak sadarkan diri...
author POV
"kau sudah sadar", tanya saira begitu melihat Hyejin sadar.
"ini jam berapa?"
"ini sudah pagi!", jawab saira sembari memandang mata Hyejin dalam-dalam
muka hyejin bingung melihat mata sembab saira.
"kau kenapa?", tanyanya lemah.
"Kau anggap aku apa?", tanya saira sembari meneteskan air mata.
"Hah? apa maksudnya?"
"yoochun oppa sudah mengatakan semuanya. kau anggap aku apa?", kata saira dengan senyum dipaksakan. "aku temanmu bukan sih?"
"maksudnya apa? aku benar-benar tak paham."
dengan bergegas saira memngambil obat2an yang lupa dimasukkan hyejin ke dalam tasnya semalam.
"ini... ini apa?", kata saira sambil menunjukkan obat2an hyejin. dengan iar mata yang tak kunjung berhenti saira melempar obat2an itu ke pangkuan hyejin. "kau anggap aku apa?", sentak saira.
hyejin hanya samapu menunduk dan mencoba menahan air matanya.
"lee hye jin... jawab! aku ini temanmu bukan sih?"
"mianhae... jongmal mianheyo...", kata hyejin dengan menangis sesenggukan.
kata maaf tak berhenti terucap dari bibir mungil hyejin. dengan tetap berurai air mata saira memeluk tubuh kurus hyejin.
"jangan pernah bohongi aku lagi. karena aku pasti tahu kau membohongin atau tidak. ara?", kata hyejin yang dijawab anggukan lemah hyejin.
"mian... aku tidak akan pernah tidak jujur lagi padamu", kata hyejin di sela tangisnya.
"selamanya kau sahabatku... aku menyayangi bodoh!'
"na do..."
Yunho POV
"sebenarnya hyejin kenapa", tanyaku pada yoochun.
"dia hanya kecapekan. ehm... anemia akut. jadi gampang pingsan. dia akan baik2 saja kok.", jawabnya yang aku tahu itu bohong karena sedari tadi dia menghidari tatapanku.
"yunho... kau semalaman tidak tidur. istirahatlah!", nasihat jaejoong.
"aku baik2 saja. sebelum aku tahu hyejin benar2 baik2 saja, aku tidak akan istirahat.", tegasku.
aku masih mengingat dengan jelas betapa hancurnya suasana semalam. saira tidak henti-hentinya menangis semalaman, apalagi setelah berbicara berdua dengan yoochun. dan yoochun tak keluar2 dari kamar hyejin hampir satu jam sejak dia datang dengan panik.
'apa yang sebenarnya terjadi?', tanyaku dalam hati. pikiranku kalut saat ini. aku hanya ingin melihat hyejin, tapi tidak bisa karena aku takut kejadian semalam terulang, dan itu akan membuatku makin merasa bersalah padanya.
flashback
saira OPV
'akhirnya malam ini aku bisa bersama dengan yoochun oppa, tapi kenapa oppaku harus ikut bersama kami sih? mengganggu saja!', tanyaku dalam hati.
tiba2 ponsel di saku celanaku berbunyi 'dari yunho oppa?'
"yobosseyo... kenapa oppa? mwo???", pekikku tanpa sadar menjatuhkan ponselku. dengan sigap jaejoong oppa menangkapnya sebelum menyentuh tanah.
"ada apa?", tanya yoochun oppa begitu melihat muka shock ku.
"hyejin... hyejin...", panggilku bingung dengan apa yang terjadi.
"mwo?", tanya jae oppa. "tenangkan dirimu. kami akan segera kembali!", katanya sembari menutup ponselku.
"ada apa?", tanya yoochun bingung.
"hyejin pingsan.", jawab jae oppa.
"mwo? kita harus kembali sekarang!", kata yoochun oppa yang lebih panik dari aku.
selama perjalanan menuju ke villa, aku lihat yoochun oppa begitu terburu2 menyetir mobilnya. dan begitu turun dia langsung membawa koper dari bagasinya, yang katanya first aid untuk berjaga2. dan aku tahu sesuatu yang tidak biasa sudah terjadi pada sahabatku itu.
author POV
dengan cemas yunho mengangkat tubuh ringan hyejin menuju ke kamarnya dan membaringkannya ke ranjang. tangannya masih menggenggam ponsel yang baru saja dia gunakan untuk menghubungi saira.
dia memegang dahi hyejin yang demam. dengan masih menggunakan kepala dingin, dia langsung lari ke dapur untuk membawa kompresan es batu untuk hyejin. setelah mengompres hyejin, dia menggenggam tangan hyejin erat.
"sebenarnya apa yang terjadi pada dirimu dan aku tidak mengetahuinya? hyejin~ah kau membuatku sakit.", tanyanya sambil mengecup tangan hyejin lembut.
tak lama kemudian saira, jaejoong dan yoochun datang. dengan peralatan kedokteran seadanya yoochun memeriksa saira, kemudian menyuruh semua keluar dari ruangan.
setelah semua pergi yoochun memberikan suntikan penahan rasa sakit dan segera menelepon appanya untuk mengabari kondisi hyejin.
saira pov
"hyejin kenapa?", tanyaku pada yoochun oppa setelah aku menariknya ke halaman villa agar tidak ada yang mendengar percakapan kami.
"dia baik2 saja, hanya anemia akut saja."
"jangan bohong!", bentakku. "aku tahu sesuatu yang lebih buruk sedang terjadi pada hyejin!"
"saira... dia baik2 saja!", katanya sembari menatap mataku dalam2.
"oppa... aku mohon, jangan bohongi aku?", kataku sudah siap menangis.
"saira... tolong jangan paksa aku. aku sudah berjanji pada hyejin dan appaku.", kata yoochun mulai tak tega.
"oppa... dia sahabatku. kami tumbuh bersama. suka duka bersama. aku dapat merasakan sakitnya. dan aku tahu, dia sedang tidak baik2 saja sekarang. katakan padaku! kumohon..."
"saira...", kata yoochun sambil memeluk tubuhku mencoba menenangkanku.
"kumohon..."
"aku akan katakan padamu. tapi kau harus janji padaku, kau tidak boleh histeris dan jangan katakan pada siapa pun terutama yunho. atau tanpa segan2 hyejin akan membunuhku. ara?"
"baiklah... aku janji.", kataku sembari menghapus air mataku yang sudah meleleh.
"hyejin... ah mian hyejin~ah. hyejin... mengidap... kanker hati.", ternganya.
seperti tersambar petir aku rasa. detik ini aku berharap hari ini april mop dan omongan yang baru saja aku dengar hanya bohong belaka.
"kalau dia terus2 pingsan seperti ini, bahkan appaku tak akan yakin sampai kapan hyejin dapat bertahan.", lanjutnya membuatku makin yakin ini bukan sekedar mimpi burukku atau mimpi buruk yang lainnya.
"andwae... hyejin tidak mungkin... tidak mungkin menderita penyakit semacam itu... tidak mungkin"
"saira... ini kenyataannya...", katanya sembari memelukku erat.
"dia... dia... adalah gadis terkuat yang pernah aku temui... tidak mungkin!", kataku disela tangsiku, ya aku mengingkari janjiku, janjiku tidak akan histeris. karena kenyataannya sekarang aku sedang menangis sesenggukan di pelukan yoochun oppa.
dengan lembut yoochun oppa menuntunku masuk kembali ke dalam villa, buru2 kuhapus air mataku. tapi entahlah begitu melihat tatapan oppaku dan yunho oppa yang kebingungan, air mataku meleleh lagi. terutama melihat mata yunho oppa yang tidak tahu apa2 tentang hyejin perasaanku jadi ikutan sakit.
'kasihan yunho oppa! hyejin~ah... kau sungguh kejam!', kataku dalam hati.
setelah kurasa mampu berjalan sendiri, aku langsung berlalu ke kamar hyejin. aku ingin menemaninya sekarang. aku ingin berada di sisinya sampai dia sadar. agar aku bisa bertanya kenapa dia membohongiku hingga saat ini, padahal kami berjanji tidak ada rahasia di antara kami.
begitu masuk ke kamar hyejin, aku melihat wajah cantiknya ditutupi pucatnya. tubuhnya yang baru ku sadari sekarang makin kurus. dan matanya yang kian cekung. hal ini membuatku tak kuasa menangis lagi.
"apakah begitu sakait? kenapa tak kau bagi sedikit padaku?aku masih sahabatmu kan?", kataku lirih sembari mengganti kompresnya.
end of flashback
author POV
siang harinya, dengan wajah kelelahan dan masih pucat, hyejin diantar pulang oleh yoochun dan saira. jaejoong dengan terpaksa tidak mengikuti adiknya karena lebih ingin menemani yunho yang melepas hyejin dengan raut muka penuh khawatir.
"yunho... dia pasti akan baik2 saja. sudah ada yoochun dan saira yang menjaganya. dia pasti akan baik2 saja!", kata jaejoong mencoba menenangkansahabat baiknya itu, namun dengan nada kurang yakin juga.
"jae... dia pasti akan baik2 saja kan?", tanya yunho tertahan sembari memandang mobil yoochun yang melaju tanpa berpaling sedikitpun dengan mata berkaca2 pula.
"entahlah...", kata jeaejoong tertunduk.
"aku tidak mau kehilangan dia, jae.", kata yunho sembari menghapus air di pipinya dengan senyum yang dipaksakan.
"Arasso...", jawab jaejoong sambil menepuk bahu yunho.
"dia berharga untukku. dia belahan hatiku...", kata yunho melow.
"mungkin sedikit kekanak2an dan agak sedikit... tapi... kalau kau ingin menangis aku mau pinjamkan bahuku, walau kau lebih tinggi dariku. apa yang sudah aku katakan sih? anggap saja tidak serius.", kata jaejoong salah tingkah.
jaejoong POV
'rasanya malu sekali mengatakan hal itu pada laki-laki walaupun sahabatku sendiri. aku masih normal!!!', kataku dlam hati
tapi yang aku lihat di luar keyakinan mataku, kulihat dia menarik badanku agar berhadapan dengannya. tanpa menatapku, dia menundukkan kepalanya dibahuku dan kulihat tubuhnya berguncang dan bahuku terasa basah.
'gadis seperti apa yang sudah bisa menghancurkanmu seperti ini, teman? aku kenal hyejin, tapi aku tidak pernah tahu sebesar ini cintamu padanya!', kataku dalam hati. aku masih terus membiarkan yunho yang terus menangis seperti anak kecil yang kehilangan barang yang paling dia sayang. entah kenapa aku juga bisa merasakan sakit hatinya yunho menjadi pihak yang tidak tahu apa2 seperti ini. dan aku juga yakin kalau adik kesayanganku itu tahu apa yang sedang menimpa hyejin.
'tenang, sobat. aku pasti akan membantumu bagaimanapun caranya!', janjiku dalam hati.
author POV
sebuah mobil bercat hitam berhenti di depan sebuah rumah. dari dalam keluar seorang gadis yang dipapah oleah gadis yang lainnya. lalu dari kursi pengemudi keluar laki2 yang akhirnya membantu gadis itu juga. mereka berdua memapahnya hingga ke pintu masuk sebuah pintu rumah.
"kau yakin mau ditinggal sendirian?", tanya saira.
"tak apa... aku sudah baikan kok. jangan khawatirkanku! lagi pula, gara2 aku kan rencanamu jadi berantakan.", kata hyejin membuat muka saira bersemu. "oppa, antarkan temanku dengan selamat, ya!", lanjutnya pada yoochun.
"hyejin~ah... ", panggil saira masih tidak rela meninggalkan hyejin sendirian.
"gwenchana... pulanglah... aku ingin sendiri.", kata hyejin.
"kalau ada apa2, segera hubungi aku, ya!", kata yoochun masih dengan wajah khawatir.
"nde... arasso.", kata hyejin dengan bahasa tubuh mengusir mereka berdua.
setelah yoochun dan saira pergi, tiba2 tubuh hyejin jatuh karena tak kuat menahan rasa sakit yang sedari tadi terasa. ditahannya perutnya dengan kedua kaki dan tangannya. hyejin mulai menangis karena rasa sakit yang dia rasa makin menjadi2.
tiba2 seseorang mengangkat tubuhnya dan membaringkannya di atas ranjangnya. matanya yang terpejam karena menanhan sakit tidak sempat melihat penolongnya yang sekarang sedang melangkah menjauh dan datang lagi. walau tidak melihatnya dia dapat mengenali bau parfume yang dikenakan penolongnya. sama dengan milik yunho.
"apakah yunho?", tanyanya lirih.
"noona... kau letakkan di mana obatmu?", tanya penolongnya.
'Kok noona?', tanya hyejin dalam hati. pandangan kaburnya membuatnya tidak bisa memastika siapa yang ada di sana, namun dia yakin dia mengenal suaranya. suara yang cukup familiar.
"ah ketemu... kau minumlah dulu!", katanya sembari membantu hyejin meminum obatnya.
"shim changmin?", tanya hyejin setelah beberapa saat merasa tenang dan pandangannya sudah tidak kabur lagi.
"nde, kenapa?", tanya changmin bingung melihat noonanya.
hyejin POV
'apa yang sedang terjadi di sini. kenapa tiba2 changmin ada di sini?', tanyaku dalam hati.
changmin adalah adik sepupuku dari ibuku. sama seperti yoochun. marga keluarga ibuku sebenarnya Park tapi karena menikah dengan ayahku makanya menjadi lee. jadi appa yoochun adalah kakak ibuku, dan amma changmin adalah adik ibuku. tapi sayang, orang tuanya meninggal saat smp, dan sekarang dia tinggal bersama keluargaku di luar negeri. dan aku sekarang aku bingung kenapa dongsaengku yang harusnya belajar di harvard sebagai pengacara malah ada di korea ini.
'pasti yoochun yang memberi tahunya... dasar ember!', kataku menyalahkan oppaku.
"kenapa kau ada di sini? bagaimana kuliahmu?", tanyaku penuh selidik.
"hyung yang mengatakan padaku. tapi setelah aku paksa juga sih. jangan marah padanya ya!", terangnya dengan muka innocentnya itu.
"orang tuaku tidak tahu kan?",
"tenang... aku hanya bilang aku merindukanmu, makanya ingin pulang ke korea. mereka percaya, lagi pula aku sedang liburan."
"kenapa tidak bilang dulu padaku?",
"karena aku tahu noona pasti akan melarangku."
"kenapa aku harus punya saudara seperti kalian berdua sih? selalu ikut campur urusan orang lain saja!", kataku membuat changmin tersenyum lebar.
"noona... aku dan hyung hanya mengkhawatirkamu. lagipula kau satu2nya saudara perempuan yang kami miliki, bagaimana kami tidak over protect padamu."
"terserahlah!! kau mau tinggal di mana?"
"di sini... bersamamu. aku kan mau menjagamu. apa lagi setelah aku tahu kau sudah putus dengan pacarmu itu..."
"oppa juga yang mengatakannya?", tanyaku yang dijawab senyuman penuh arti changmin. "dasar ember!"
"jangan begitu. yoochun hyung hanya khawatir padamu!"
"kalian berdua sama2 bawel ya?! terserah kalian sajalah!"
"dengan senang hati!", jawabnya membuatku makin sebal.
"kau ganti parfume, ya?", tanyaku begitu mencium parfume changmin lagi.
"iya... kau suka? mantanku yang membelikannya."
"sama dengan punya yunho...", kataku menerawang.
"kalau kau masih mencintainya kenapa tidak kembali padanya?", tembak changmin tepat sasaran.
"untuk apa? untuk membiarkannya terjerumus pada luka yang lebih dalam. toh aku akan meninggalkannya... selamanya.", kataku sembari berbaring dan menarik selimutku tinggi2.
"noona... kau tidak boleh putus asa seperti ini! kau berubah... noonaku bukan orang yang gampang menyerah seperti dirimu!", kata changmin marah sembari keluar dari kamarku. aku menangis mendengar ungkapannya barusan.
dia benar... aku dulu orang yang optimis memandang hidup, dan sekarang... aku terpuruk oleh penyakit yang seharusnya tidakku milik. sebenarnya apa rencana TUhan padaku?
author POV
di kampus...
sebuah mobil sport berhenti di depan kampus design. seorang lelaki tampan dengan tinggi semampai dengan gentle turun dan membukakan pintu sebaliknya. dari sana turunlah gadis berambut panjang dengan wajah yang makin terlihat cantik karena tertutup pucat. dengan lembut lelaki itu membantunya verjalan ke arah gadis lain yang memang menunggunya.
"saira... kenalkan ini changmin, sepupuku yang kuliah di harvard itu lho!"
"yoochun oppa sudah cerita kalau kau akan datang ke korea. aku teman hyejin, saira."
"jadi ini Kim sa ira yang selalu diceritakan hyung dan noonaku. pantas saja yoochun hyung begitu tertarik padamu, kau cantik!"
"jadi yoochun sudah cerita padamu tentangnya?", tanya hyejin pada saira yang dijawab anggukan sungkan saira.
"kubunuh dia nanti!", lanjut hyejin dengan muka marah.
"sudah ya noona... nanti aku akan menjemputmu.", kata changmin sembari berjalan cepat ke arah mobil setelah mencuri ciuman dari pipi hyejin.
"heh!!! kau mau kemana sekarang?", teriak hyejin yang hanya bisa pasrah diperlakukan seperti itu oleh changmin.
"main...", jawab changmin sebelum menaikkin mobil.
"main? jangan main sambil main cewek ya!! dasar playboy!", teriak hyejin begitu mulai berjalan.
"sepertinya kau sudah baikan. sudah bisa teriak2 kan?", sindir saira ketika melihat kelakuan sahabatnya yang cenderung kekanak2an.
"tentu saja! aku punya adik yang begitu berbakti padaku. semalaman tidak tidur untuk menjagaku. tentu saja aku jadi baikan sekarang!"
"beruntungnya dirimu... dikelilingi oleh pria2 tampan yang perhatian pula seperti yoochun dan changmin. jadi iri!"
"apa maksudmu? kau kan punya kakak seperti jaejoong yang bahkan rela mati untuk mati untuk adiknya tersayang ini.", balas hyejin.
"tapi dia itu bukan tampan, tapi cantik! malah terkadang aku merasa kalah cantik darinya. tak jarang teman cowok yang aku ajak ke rumah jadi naksir padanya karena mengira dia onnieku! sebal tidak?",
"kalau begitu ceritanya, itu sialmu kim sa ira!", kataku sembari mengacak2 rambutnya.
"lee hye jin...", panggil seseorang dari arah belakang. begitu mereka berdua menoleh , tangan hyejin syudah ditarik paksa oleh seseorang.
"aku mau bicara berdua denganmu!" lanjut pria itu, yang ternyata yunho.
"oppa...", panggil hyejin yang kaget setelah mengetahui orang yang menariknya itu yunho.
yunho pov
beberapa saat yang lalu...
aku melihat mobil hyejin berhenti di depan kampus. tapi betapa kagetnya aku begitu mengetahui yang keluar dari tempat kursi pengemudi bukanlah hyejin melainkan seseorang lelaki yang tidak aku kenal. hatiku bertanya2 siapa laki2 itu? apa dia alasan hyejin memutuskanku?
hatiku makin panas begitu melihat laki2 itu membantu hyejin berjalan menuju ke arah saira. ingin rasanya aku berlari ke sana dan memukul laki2 itu, tapi aku tidak ingin hyejin makin membenciku dan tidak ingin bertemu denganku lagi. apa jadinya aku tanpa hyejin di sampingku lagi?
'aku akan mengajaknya bicara sekarang. aku akan bertanya siapa laki2 itu.', kataku dalam hati sambil berjalan ke arah hyejin dan saira berada.
begitu berada beberapa langkah saja di belakang mereka, "lee hye jin...", kupanggil namanya.
begitu mereka berdua menoleh ke arahku, tanpa menunggunya sadar siapa aku, ku tarik tangan hyejin dan kutarik tanpa aku memandangnya.
"oppa...", kudengar dia memanggil oppa, itu artinya dia sudah sadar siapa aku.
"kau mau membawaku ke mana?", tanyanya.
tanpa bicara sedikitpun aku terus menariknya menuju ke arah taman kampus.
"lepaskan! sakit tahu!", teriaknya, mendengarnya aku langsung mendudukkannya di kursi taman dengan paksa. dan aku terduduk menunduk di depannya dan meletakkan tanganku di samping badannya agar dia tidak lari dariku lagi.
"kau mau apa lagi dariku?", tanyanya dengan suara bergetar.
kutatap matanya dalam2 dengan marah, "aku ingin tanya alasanmu memutuskanku?", tanyaku dengan tetap memandangnya.
"aku... aku sudah bosan denganmu!", jawabnya dengan muka sok tegas, padahal aku sadar aku sudah membuatnya takut karena suaranya bergetar saat menjawqab pertanyaanku tadi. sungguh aku tuidak bermaksud membuatnya ketakutan seperti ini. tapi entah kenapa kemarahanku meluap begitu saja.
"itu hanya alasanmu saja, kan?", sentakku membuatnya bergidik.
"aku tidak mengerti maksudmu.", jawabnya salah tingkah.
"siapa laki2 yang mengantarmu barusan? apa dia alasanmu memutuskanku? jawab!", tanyaku membuatnya langsung mengangkat kepalanya dan menatapku.
"siapa? changmin? dia hanya sepupuku!", terangnya padaku. tapi untuk apa, kalau dia sudah tidak peduli padaku?
"lalu kenapa kau putuskan aku?", tanyaku sembari melepaskan pukulan ke arah sandaran kursi di belakangnya hingga retak, agar aku bisa meredam sedikit kemarahanku. kepalaku langsung tertunduk begitu melihat wajah hyejin yang tidak percaya aku bisa melakukannya.
sedikit lama hingga ku lihat air mata hyejin jatuh di atas pangkuannya. tapi aku masih berusaha meredam amarahku yang sudah sampai di ubun2. tanganku pun sampai lupa kutarik kembali karena aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri.
"oppa... kau membuatku takut.", kata hyejin tiba2 dengan suara bergetar. aku mengangkat kepalaku, aku melihat wajah cantiknya yang berlinang air mata. rasa bersalah segera merasuk ke dalam diriku. sungguh aku tidak bermaksud seperti ini.
kutarik tanganku, dan langsung kepeluk dia erat. rasanya rapuh sekali. "mian... mianhae... aku tidak akan membuatmu ketakutan lagi... aku janji...", kataku tanpa melepas pelukanku. kurasakan bahuku basah oleh air matanya yang tidak berhenti menangis sedari tadi.
author pov
dengan wajah gusar yunho duduk di sebelah hyejin yang masih terus menangis di sebelahnya. dengan wajah kebingungan karena tidak tahu cara menghentikan tangisan hyejin, akhirnya yunho memberanikan diri menggenggam tangan hyejin yang ada di atas pangkuan hyejin.
"mianhae...", katanya tanpa memandang hyejin.
"omo... tanganmu berdarah... kau baik saja2 kan?", tanya hyejin panik melihat tangan yunho yang dibuat untuk memukul sandaran kursi hyejin tadi.
"kenapa kau harus memukul sekeras itu, tadi? lihat tanganmu terluka seperti ini, kan?", kata hyejin panik sembari membasahi tangan yunho dengan air mineral yang selalu dibawa2nya. muka yunho meringis menahan perih yang ditimbulkan karena luka tadi.
"ini tangan kananmu, masak calon arsitektur terluka seperti ini. kalau kau tidak bisa menggambar lagi bagaimana?", tanya hyejin panik sembari membalut tangan yunho dengan sapu tangan yang selalu dia bawa di tasnya.
perlahan tangan yunho yang satunya menyentuh pipi hyejin lembut dan dia tersenyum atas perhatian hyejin yang tidak pernah berubah padanya, "aku baik2 saja!", kata yunho, membuat hyejin sedikit tersadar dan bersemu malu sendiri.
"kita harus ke rumah sakit!", kata hyejin sembari menarik tangan yunho. "mana kuncimu?", tanyanya begitu menyadari sesuatu.
"hah? kenapa?", tanya yunho bingung sembari memberikan kunci mobilnya dengan patuh.
"kau kan sedang terluka bagaimana bisa menyetir?", tanya hyejin sembari tersenyum sembari berjalan mendahului yunho ke tempat parkir.
di rumah sakit...
"bagaimana?", tanya hyejin begitu yunho keluar dari ruang periksa.
"baik2 saja. tidak ada tulangku yang patah.", jawabnya sembari memperlihatkan tangannya yang sudah di perban pada hyejin.
"ah... syukurlah...", kata hyejin setelah menarik nafas lega.
tanpa peduli pandangan orang, yunho langsung meletakkan kedua tangannya di kedua pipi hyejin, dan meletakkan dahinya di dahi hyejin hingga mata hyejin hanya dapat memandang matanya.
"kau bodoh ya, untuk apa aku latihan tinju begitu keras kalau tanganku gampang luka seperti pikiranmu?", kata yunho.
"omo... aku lupa!", jawab hyejin sambil meringis lebar. yunho lalu melepaskan kedua tangannya dan berjalan mendahului hyejin.
"pacar terluka tentu saja khawatir. tidak boleh ya? omo...", kata hyejin yang langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya begitu sadar apa yang dia katakan.
omongan hyejin membuat yunho langsung terpaku, dan berbalik melihat hyejin yang sekarang sedang menunduk salah tingkah.
"memangnya aku masih pacarmu?", tanya yunho begitu dia sudah tidak berjarak dengan hyejin. hyejin hanya bisa terus menunduk karena tidak berani memandang muka yunho saat ini.
"terserahlah kalau tidak mau menjawab. ini... aku ingin kau membacanya, dan aku ingin minta jawabanmu hingga nanti malam di club biasanya aku nongkrong dengan jaejoong. OK!", kata yunho sambil memberikan surat pada hyejin dan berlalu begitu saja ke arah pintu keluar.
di pintu keluar yunho melihat changmin berlari dengan panik ke arahnya dan hyejin.
"sepertinya jemputanmu sudah datang. aku pulang dulu ya!"
"kenapa harus di club?", tanya hyejin begitu changmin sudah ada di sampingnya.
"karena kalau menolakku lagi, aku bisa bunuh diri dengan mudah.", jawab yunho seenaknya.
"mwo? jangan seenaknya begitu dong!", teriak hyejin yang dibalas dengan lambaian tangan yunho.
"dia... yunho?", tanya changmin yang sedari tadi melongo mendengar pembicaraan noonanya.
"nde... antarkan aku pulang!", kata hyejin yang sedang naik pitam.
di rumah keluarga lee...
begitu sampai di kamarnya hyejin langsung menutup pintunya tepat di depan muka changmin yang sedari tadi mengikutinya. dengan terburu2 hyejin langsung membuka surat dari yunho.
untuk hyejinku,
masih bolehkan aku memanggilmu hyejinku? [dasar bodoh^^]
kau tahu aku tidak pandai menulis kan?
tapi aku paksakan untuk dirimu [^_^]
sahabatku pernah bercerita tentang kekasihnya yang meninggalkannya...
dia bilang, dirinya hancur saat gadis itu meninggalkannya
tapi dia berusaha bangkit, karena dia gadis itu tidak menginginkan dia terpuruk dalam kesedihannya
dia terus saja berkata padaku, "kau masih beruntung jung yun ho...
kau masih bisa menemui gadis yang kau cintai,
sedangkan aku... aku hanya bisa membayangkannya di malam hari
memandangi fotonya saat aku sadar...
dan mendatangi pusaranya saat aku rindu"
dan aku bertanya pada diriku sendiri
"mampukah kau hidup seperti itu yunho?"
aku jawab, "aku tidak tahu apa jadinya aku tanpa dia...
mungkin aku tidak akan setegar itu, kalau dia sudah tidak bisa aku temui lagi."
tapi aku tahu, gadis yang aku cintai ingin aku bahagia.
tapi masalahnya, gadis yang aku cintai tidak tahu,
kalau aku bisa bahagia bila aku di sampingnya.
tapi sekali lagi, aku harus dapat menjawab pertanyaan...
"mampukah aku hidup tanpa gadis yang aku cintai?
mampukah aku hidup tanpamu?
mampukah aku hidup tanpa lee hye jin?" [T_T]
hanya kau yang bisa menjawabnya...
namun selagi kita masih bernafas...
aku ingin memberimu satu kenangan manis yang bahkan tak kan kau lupakan seumur hidupmu
masih bolehkah aku mengukir kenangan itu bersamamu?
"kenapa kau begitu hebat meluluhkan hatiku?", kata hyejin sembari menitikkan air mata haru.
"dia benar... harusnya aku mengukir kenangan bersamanya selagi aku hidup.", kata hyejin sembari berganti pakaian dan berdandan untuk menemui yunho.
begitu membuka pintu kamarnya, changmin yang sedang minum cola langsung tersedak karena tumben2 noonanya berdandan secantik saat itu.
"kau kesambet?", tanya changmin sambil melihat hyejin dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"dasar playboy! jangan pandangi aku seperti itu!", kata hyejin sembari melempar tas tangannya ke arah changmin yang dengan sigap ditangkap changmin dengan mulus.
"noona mau kemana memangnya dengan dandanan seperti itu?", tanya changmin.
"mau antarkan aku tidak?", tanya hyejin dengan senyum penuh arti.
di club xxx
suasana club yang semarak dan dipenuhi oleh permainan DJ membuat hyejin sedikit terbawa dan sedikit melupakan sakitnya.
"noona... aku pergi cari mangsa dulu ya!", pamit changmin yang membuat hyejin memandangnya risih.
"dasar buaya!!", kata hyejin.
mata hyejin penuh awas memandang berkeliling ruangan. di satu pojok ruangan dia mendapat sosok yang dia cari. tapi rasa panas langsung memenuhi dirinya karena melihat orang yang dicari sedang dikelilingi gadis2 cantik yang tak henti menggodanya.
"harusnya aku tidak usah ke sini dari tadi!", kata hyejin yang mulai mencari2 changmin untuk mengantarnya pulang.
tanpa sadar sosok yang dia cari menangkap sosok cantik hyejin dan langsung meninggalkan gadis2 keras kepala itu dengan wajah tersenyum, "maaf nona2 kekasihku sudah datang!", katanya sebelum meninggalkan kerumunan. membuat gadis2 itu langsung mengikuti gerak tubuhnya untuk mengetahui bagaimana gadis yang jadi kekasihnya.
"kenapa kau diam saja di sini. ayo masuk!", tariknya pada hyejin. tapi segera dihempas hyejin.
"maumu apa sih sebenarnya?", tanya hyejin membuatnya kaget.
"hah?"
"yaa... jung yunho kau mau membuatku cemburu?"
"apa sih?"
"memang mudah ya mengumpulkan gadis2 seperti itu bagi tuan muda keluarga jung. jadi untuk apa ada aku di sini?"
"kau cemburu?", tanya yunho dengan senyum kemenangan.
"tidak! kenapa? kau mau bilang kalau kau lebih suka pada mereka kan?"
"kau ini kenapa sih?"
"baiklah... memangnya kau pikir aku tidak bisa seperti mereka apa?", kata hyejin yang langsung menyerobot segelas vodka di meja bartender dan menegaknya dalam sekali nafas.
"Hyejin... kau gila ya?", tanya yunho yang tau betul kalau kekasihnya ini tidak kuat minum. bukannya berhenti sampai di situ, hyejin langsung menyerahkan tasnya pada yunho, dan berjalan ke lantai dansa dan mulai menggoyangkan badannya.
yunho hanya bisa melongo tidak percaya melihat kelakuan hyejin akhirnya mengikutinya ke lantai dansa untuk menarik hyejin sebelum dia mabuk di tengah kerumunan orang.
"oppa... ayo ikut menari.", kata hyejin yang sudah mabuk sembari mengalungkan tangannya ke leher yunho.
"kau sudah mabuk!", kata yunho sembari menarik tubuh hyejin.
"oppa... saranghae...", kata hyejin sembari memegang kedua pipi yunho dan mencium bibirnya. yunho hanya tersenyum setelah hyejin melepas ciumannya.
tiba2 hyejin memeganga perutnya dan jatuh ke lantai dansa. yunho yang kaget tidak, bingung dengan apa yang terjadi pada hyejin.
"noona...", teriak changmin sembari mendekati tubuh hyejin. dan membantu hyejin untuk memegang perutnya.
"dari pada kau begitu terus, lebih baik kita bawa ke rumah sakit!", saran yunho begitu sadar yang diiyakan oleh changmin.
yunho langsung membawa tubuh hyejin dengan mobilnya. sementara changmin membawa mobil hyejin dan mengikuti mobilnya dari belakang. sekarang jam sudah menunjukkan pukul 1 malam dan lalu lintas sudah mulai lengang. dengan mudahnya mobil yunho melaju menuju rumah sakit paman hyejin berada dekat dengan club tempatnya barusan.
di rumah sakit...
yunho duduk di bangku dengan tenang dan terus berdoa untuk hyejin yang ada di ruang ICU. semantara itu changmin yang memang gampang panik akhirnya hanya mondar-mandir di hadapan yunho sampai yunho jadi bingung sendiri.
"kau bisa duduk tenang tidak?", tanya yunho.
"dia noonaku satu2nya bagaimana aku bisa tenang!?", jawab changmin.
tiba2 dari dalam ruang ICU keluar dokter.
"ahjussi... bagaimana noona?", tanya changmin pada dokter yang tak lain adalah appanya yoochun itu. syukurnya mereka menemukan rumah sakit tempat appanya yoochun bekerja, makanya suster yang sedang bertugas hari itu jadi bisa menghubunginya langsung karena hyejin memang pasiennya.
"dia sudah baik2 saja. ahjussi sudah memberikannya obat penenang. dia akan baik2 saja besok!"
"mian... aku tidak bisa menjaganya dengan baik... mian!", kata changmin sembari berlutut di hadapan pamannya.
"sudahlah bukan salahmu, noonamu saja yang tidak mau mendengarkan paman.",
"dokter, sebenarnya hyejin kenapa?", tanya yunho kebingungan.
"ah... kita bicarakan besok pagi saja, ya!? sekarang lebih baik kalian berdua pulang, percuma di sini, hyejin juga tidak bisa ditemui sampai besok pagi.", katanya memberi jawaban mengambang pada yunho.
dengan terpaksa mereka berdua pulang ke rumah masing2.
"hyung... noonaku sangat mencintamu. berjanjilah kau akan terus di sampingnya apa pun yang akan terjadi.", kata changmin begitu keduanya berada di samping mobil masing2.
"aku pasti begitu. aku sudah berjanji pada diriku sendiri. tenang saja, aku tidak akan meninggalkannya sekalipun dia meninggalkanku.", jawab yunho dengan senyum tulus yang langsung masuk ke dalam mobilnya dan memacunya, meninggalkan changmin dengan pikirannya.
"kau benar noona... pasti sakit sekali kalau harus meninggalkan orang yang begitu mengagumkan seperti itu. aku jadi tahu kenapa kau begitu mencintainya.", kata changmin sembari tersenyum puas dan memacu mobilnya untuk pulang ke rumah.
yunho pov
rasa kacau sekali hari ini, kenapa hyejin jadi sering pingsan akhir2 ini ya?
sudahlah lebih baik aku tidur, jadi besok pagi2, sebelum ke kampus aku bisa membawakan dia bunga.
aku yakin malam ini aku bisa tidur dengan tersenyum hari ini.
sementara itu di kediaman keluarga Kim...
author POV
"kau bilang apa?", teriak jaejoong pada adiknya.
"oppa... jangan beritahu pada yunho oppa ya! aku mohon!", pinta saira.
"kau gila apa? bagaimana mungkin kau merahasiakan hal sepenting ini padaku?", tanya jaejoong tidak percaya. "kau tahu yunho sudah hampir gila gara2 memikirkan hyejin kan? bagaimana mungkin aku merahasiakannya?"
"oppa... kau mau adikmu yang manis ini mati di tangan sahabatnya sendiri?"
"itu mah deritamu!"
"oppa... aku kan adikmu satu2nya. aku mohon!", rayu saira.
"aisssh... kalau yunho sampai tahu, aku yang akan dibunuh!", kata jaejoong yang akhirnya mengalah.
rumah sakit tempat hyejin di rawat
mobil yunho sudah berada di parkiran rumah sakit walaupun jam di tangannya masih menunjukkan pukul 7 pagi. begitu keluar dari mobilnya dia membawa satu bucket mawar pink yang paling disukai hyejin. dia membenarkan dandanannya yang sempat berantakan karena terlalu lama duduk di kursi kemudi. dengan langkah mantap dia berjalan menuju kamara rawat inap hyejin yang tadi pagi sudah di sms oleh yoochun. begitu mau masuk ke dalam ruangan hyejin, dia mengurungkan niatnya karena dia mendengar seseorang berbicara di dalam.
"kau itu mau bunuh diri apa?", tanya dokter park pada hyejin.
"mianhae ahjussi... aku terbawa suasana."
"ahjussi sudah peringatkan berkali2 kan, jangan pernah minum alkohol. tapi kau malah minum."
"ah... mian... mian... jangan marah lagi padaku!"
"hyejin... penyakitmu itu bukan penyakit yang mudah. kau itu kena kanker hati..."
"ssst.... jangan keras2 nanti ada yang dengar kan bisa gawat!"
sementara itu di luar yunho shock mendengar percakapan barusan. bunga yang dibawanya terlepas dari tangannya. tubuhnya tiba2 jadi lemas hingga dia terduduk di lantai rumah sakit. air matanya meleleh tanpa bisa dia kendalikan. dengan segera dia memencet nomor jaejoong.
"yaa... aku mau bicara denganmu dan adikku. temui aku di sky life, sekarang?", katanya sembari berjalan meninggalkan rumah sakit tanpa mendengarkan omongan jaejoong.
"ahjumma, bilang pada ahjussi jangan memarahiku terus...", manja hyejin pada ahjummanya yang sedang menyuapinya.
tiba2 terdengar pintu yang terbuka.
"changmin~ah... kau bawa apa?", tanya hyejin melihat adiknya membawa sesuatu di tangannya.
"aku membawa laptopmu supaya kau tidak bosan. dan ini entahlah, ada seseorang yang meninggalkannya di depan pintu. sepertinya untukmu. kau suka kan pink rose seperti ini.", kata changmin sembari meletakkan laptop di meja dan menyerahkan bunganya padamu. ada kartu kecil yang meyertainya. tulisannya "because i love you".
"jangan-jangan...", kata hyejin tiba2 menyadari sesuatu.
sky life cafe...
outhor pov
seorang gadis dan dua pria duduk mengelilingi meja yang berada di teras belakang cafe. mereka sudah 10 menit lebih berada di sana, tanpa suara. seorang pria memandang si gadis dan pria di sampingnya bergantian. perasaan gugup jelas terpancar dari raut mukanya.
"jadi sebenarnya ada apa? kenapa tiba2 menyuruh kami kemari?", tanyanya memecah kesunyian.
suasana cafe saat ini masih sepi. jam bukanya vbaru lewat beberapa menit yang lalu. hanya segilintir orang saja yang sedang menikmati sarapannya. sebagian besar memilih berada di dalam ruangan. karena udara pagi hari ini terlampau sejuk.
"aku mengenal hye jin, dua tahun yang lalu. ketika dia masih duduk di bangku sma. aku menyukai rambutnya yang selalu dikuncir dua, aku suka cara berjalannya yang mirip pria, dan sikapnya yang kekanakan. lalu kami pacaran, dan setelah setahun lebih bersama dia memutuskanku, tanpa aku tahu alasan yang jelas.",
"sebenarnya kau mau bicara apa?", tanya si gadis dengan tangan terlipat di depan dadanya.
"dia selalu bilang bahwa dia mencintainya. selalu mencintaiku entah apa yang akan terjadi padaku. aku juga. aku mencintainya tanpa alasan. entah dia berubah jadi apa, entah dia benci padaku, entah dia punya mematikan seperti kanker pun, aku tidak peduli!!!", kata yunho sambil memandang mata saira tajam.
"jadi kau sudah tau?", tanya jeajoong tertegun.
"lalu?", tanya saira tiba2. "kau mau apa setelah mengetahui hal ini? kau akan meninggalkannya karena tak ada harapan bersamanya? ya~ jung yun ho... kau pengecut!", kata saira tanpa ampun dan langsung meninggalkan tempat duduknya, pergi.
"saira tunggu. yunho mian~", kata jaejoong mengikuti adiknya.
"aku mencintainya saira... aku sangat mencintainya. aku tidak akan pernah meninggalkannya. sekalipun dia meninggalkanku. aku akan terus mengejarnya, sekalipun dia pergi menjauh dariku. karena aku mencintainya.", teriak yunho. membuat pengunjung yang berada di teras belakang langsung menoleh padanya, begitu juga dengan jaejoong dan saira yang belum jauh melangkah.
"gomawo oppa!", kata saira yang tanpa sadar meneteskan air matanya. jaejoong yang berada di sampingnya hanya merangkul adiknya yang mulai menangis sesenggukan dan menatap mata yunho dan tersenyum.
yunho pov
kulajukan mobilku dengan kecepatan tinggi menuju ke arah laut tempat persembunyian terakhirku. ku lihat spedometer sudah menujukan angka 110, dan bukannya mengurangi kecepata, aku malah makin menekan pedal gasku keras2. mobilku memang dirancang untuk balapan sepertinya. dan aku yakin kalau aku bertemu polisi, aku akan langsung ditilang tanpa dimintai keterangan. tapi syukurnya, jalan yang aku lewati saat ini adalah jalan yang selalu sepi, karena yang ada di tempat ini hanya villa keluargaku saja.
aku menghentikan mobilku tepat di depan villa. dengan langkah yang sedikit gontai aku menuju ke belakang villa, tempat tebing curam yang menjorok ke laut berada. inilah tempat tersembunyian terakhirku. karena tidak ada teman2ku yang tahu tempat ini, kecuali jaejoong. yang memang menyimpan hampir semua rahasiaku.
aku mendekati pagar yang membatasi tebing itu. perasaanku kacau saat ini. aku berteriak keras2 hingga tenggorokkanku terasa sakit. dan berdiam diri di sana benar2 membuat hatiku tenang. hingga tak terasa hari mulai gelap. aku mengambil kotak yang berada di dalam kantong celanaku. kubuka dan melihat isi di dalamnya dan tersenyum.
kulangkahkan kakiku menuju mobil. saat ini aku hanya ingin bertemu hyejin. dengan kecepatan penuh aku menuju ke arah rumah sakit tempat hyejin dirawat. sial bagiku, karena aku sampai saat jam di tanganku menunjukkan pukul 10 malam. ini pasti karena macet tadi.
tanpa ragu aku menuju kamar hyejin. ketika kubuka pintu kamarnya. aku lihat hyejin sudah tertidur dalam kegelapan. kututup kembali pintu agar cahaya tak membangunkannya. dan kulangkahkan kakiku menuju ranjangnya.
"hyejin~ah... aku bersyukur kau sedang tidur sekarang. karena kau tahu kalau aku bukanlah orang yang pandai berbicara. tapi aku selalu berharap aku bisa mengakatannya padaku nanti, ketika kau sudah bangun dari tidurmu.", aku menarik nafas dalam2 sebelum meluncurkan kata2ku. kuambil kotak yang berada di dalam sakuku, dan membukanya di hadapan hyejin yang sedang terlelap.
"aku ingin kau tahu. di dalam hatiku, kau adalah yang pertama dan terakhir. saranghae hyejin~ah. ini yang ingin aku ucapkan nanti ketika kau bangun... would you marry me?", suaraku pasti terdengar gugup sekali sekarang.
"pabo! apa sih yang aku lakukan. lebih baik sekarang aku tidur.", kataku setelah memukul kepalaku sendiri. kotak yang tadi terbuka, sekarang aku tutup dan kuletakkan di meja sebelah ranjang hyejin. dan setelahnya kulangkahkan kaki menuju sofa untuk tidur.
pagi hari...
hyejin POV
kubuka mataku karena matahari yang menerobos gorden mulai membutakan mataku. aku melihat jam tangan yang aku letakkan di meja. jam 8. di balik jamku, aku melihat sesosok benda asing. dengan sedikit mengangkat tubuhku dan bersandar di kepala ranjang. kuambil benda asing itu yang ternyata sebuah kotak kecil berukuran 4x4. kubuka kotak itu, dan kudapat sebuah cincin bertahtah 3 berlian kecil yang kutahu mirip dengan milik yunho. kuedarkan pandanganku dean kudapati sosok yang kurindukan sedang tertidur di sofa. pandanganku ternyata mengusik tidurnya. matanya terbuka dan menatap mataku tajam. membuatku tersenyum. aku memakai cincinnya di jari manis kananku dan menujukkan tanganku padanya.
"cocok untukmu.", katanya sembari beranjak dari sofa dan menuju ke arah ranjangku.
"hyejin... ada yang ingin ku sampaikan padamu...", tiba2 pintu terbuka dan kudapati sahabatku dan kakaknya masuk ke dalam ruangan. begitu kembali melihat ke arah yunho, kudapati kepalanya tertunduk dan mendesah penuh kekecewaan.
author POV
"ada yang salah?", tanya saira tanpa rasa bersalah sedikitpun. tangannya penuh dengan keranjang di tangan kanan dan bunga di tangan kiri.
"ani~...", jawab yunho ketus.
"pasti ada yang salah.", kata jaejoong ikut2an.
"kemarikan bungamu, biar ku bantu.", jawab yunho mencoba mengaburkan pembicaraan.
"memangnya masih ada vas bunga?", tanya hyejin menyadarkan yunho.
"kalau begitu, biar aku tanyakan pada perawat dulu.", kata yunho sembari meninggalkan ruangan.
saira meletakkan keranjang yang dibawanya di meja, dan mengambil sepotong kue di dalamnya untuk hyejin.
"kau membuatnya sendiri?", tanya hyejin takjub.
"mana mungkin? kan ada oppaku.", jawab saira sambil tersenyum ke arah oppanya. "makanlah.",
"aku beruntung yunho tidak membunuhku kemarin.", kata saira.
"memangnya kenapa dia mau membunuhmu?", tanya hyejin. sembari memandang jaejoong yang sudah sibuk dengan bacaannya di sofa, dan kembali lagi ke arah saira.
"karena merahasiakan tentang penyakitmu...", saira langsung menutup mulutnya yang ember.
"pabo!!!", kata jaejoong yang kaget mendengar penjelasan adiknya yang terlampau terus terang.
"mwo? dia sudah tau?", hyejin tak kalah kagetnya mendengar pengakuan saira.
"mian...", kata saira dengan penuh rasa bersalah. tiba2 dari arah pintu yunho masuk dengan bunga di dalam vas. mata semua orang yang berada di dalam ruangan itu langsung menatap yunho.
"ada apa?", tanya yunho polos masih tercekat di depan pintu.
"saira... temani oppa sarapan.", kata jaejoong mengajak adiknya pergi.
"tapi kan oppa tadi sudah makan.", jawab saira.
"jangan bawel, ayo ikut!!", kata jaejoong dengan mata marah yang membuat saira langsung ketakutan dan mengikuti oppanya keluar.
"dia sudah tau...", kata jaejoong berbisik pada yunho ketika dia melewatinya. muka yunho tertegun sejenak hinggz akhirnya kembali ke kondisi awal.
"bawakan aku juga ya!", kata yunho kepada jaejoong.
begitu mereka berdua pergi, hyejin masih belum bisa menghentikan tatapannya pada yunho. sementara yunho meletakkan vas itu di meja, seperti tidak ada sesuatu yang terjadi. air mata hyejin mulai tumpah perlahan.
"kau sudah tau?", tanya hyejin dengan terus menatap yunho.
"soal apa?", tanya yunho dengan pura2 membetulkan letak bunga.
"kau tau apa yang ku bicarakan!", tekan hyejin, membuat yunho menghentikan pekerjaannya.
"kalau iya, memang kenapa?",
"kenapa kau masih ada di sini? kenapa kau tidak meninggalkanku? kenapa?",
"harusnya kau tau jawabannya lebih baik dari pada aku.", jawab yunho dengan memandang mata hyejin tajam.
"kenapa? karena cincin ini. aku tidak butuh cincin ini.", kata hyejin sembari berusaha melepas cincin di jari manisnya. tapi belum juga berhasil, yunho sudah menangkap kedua tangan hyejin dan mencium bibirnya, membuat hyejin melunak dan perlahan tenang lagi.
"aku mencintaimu. dan aku tidak punya alasan untuk itu... would you marry me?", tanya yunho begitu melepas ciumannya. mendengarnya hyejin hanya terdiam dengan tetap meneteskan air matanya.
"tapi aku... mungkin tidak punya waktu lama lagi. aku tidak ingin membuatmu terluka lebih dalam lagi. aku...",
"arasso... jadi izinkan aku membahagiakanmu.", tatap yunho lembut. dengan lembut akhirnya hyejin mengangguk dan memeluk tubuh hangat yunho dan menangis pelan di sana.
tiba2 pintu terbuka dan dua orang pria masuk ke dalam ruangan.
"apa ada sesuatu yang perlu dirayakan?", tanya salah satunya.
"aku akan menikah dengan noonamu.", jawab yunho tenang.
"mwo? selamat... selamat... memang harus dirayakan kalau begitu.", kata changmin ceria. "hyung, mana ucapan selamatmu?", tanya changmin pada pria di sampingnya.
"selamat ya!", kata yoochun dengan senyum yang agak berat.
"kapan acaranya?", tanya changmin.
"ehm... bagaimana kalau tepat hari ulang tahunku? atau kau mau ketika hari vallentine saja?", tanya yunho semangat, yang sekarang telah melepaskan pelukannya.
"ah, maaf. tapi aku permisi dulu. ada pasien yang membutuhkanku.", pamit yoochun dengan segera meninggalkan kebahagian di kamar hyejin dan buru2 menuju ke arah ruangan appanya.
yoochun POV
"appa, kita harus bicara?", kataku begitu masuk ke ruangan appaku dan melihatnya sedang membaca laporan.
"masuklah.", jawabnya.
"itu laporan kesehatan hyejin?", tanyaku yang dijawab anggukan kepala appa. "bagaimana keadaannya?",
"tidak bagus. laporan terakhir mengatakan kankernya sudah mulai menyebar. dia mungkin tidak bisa bertahan hingga pertengahan bulan depan.", jawab appa dengan nada getir.
"hyejin akan menikah. menikah dengan orang yang paling dia cintai adalah impiannya sejak kecil. apakah kita juga harus memupuskan kebahagian itu?",
"menikah? dengan siapa? dengan yunho?", tanya appanya yang memang sudah dikenalkan dengan yunho sejak lama. aku hanya bisa mengangguk pelan.
"tidak bisakah kita memberi obat untuk menahan laju kankernya?", tanyaku
"sudah terlambat. dia sekarat sekarang. kita sudah tidak bisa berbuat apa2 lagi. hanya tinggal menunggu waktu saja.",
"kita keluarganya. apa appa tega mengatakan itu padanya, dan membuat impiannya hancur begitu saja.?", tanyaku dengan tatapan nanar padanya.
"kau harus ingat kalau kau adalah dokter. tunjukkan profesionalitasmu.", jawab appa membuat emosiku tak tertahan dan langsung melangkahkan kakiku meninggalkan ruangan appa.
jujur aku tak tega mengatakan kenyataan ini pada hyejin maupun yunho. aku tidak tega menghancurkan kebahagian mereka yang tinggal selangkah lagi. Tuhan, apa yang harus aku lakukan?
kamar hyejin dirawat
author pov
"jadinya kapan", tanya saira.
"hari vallentine besok.", jawab yunho dengan muka girang.
"kalau begitu kita harus menghubungi ahjussi dan ahjumma. supaya mereka bisa datang secepatnya untuk membantu pernikahan nunna.", kata changmin juga semangat.
"kau juga harus menghubungi orang tuamu, yunho!", kata jaejoong mengingatkan.
"iya... tenang saja. nanti aku pasti menghubungi mereka. ah... aku lapar. pesananku lupa kau bawakankan. tanggung jawab sekarang. temani aku makan.", kata yunho menggeret jaejoong pergi. "saira... titip calon istriku, ya!", kata yunho sambil tersenyum simpul, membuat muka hyejin mendadak merah karena malu.
"eh... rambutmu berantakan sekali... aku rapikan ya!", kata saira sembari menyisir rambut hyejin. "ah, hyejin~ah... mian... sepertinya aku membuat rambutmu rontok.", kata saira langsung membuyarkan lamunan hyejin.
"mwo? kenapa aku tidak merasakannya... ah...", perkataan hyejin mendadak terhenti karena rasa sakit kembali mendera perutnya.
"kau tunggulah, aku panggilkan ahjussi.", kata saira yang langsung berlari menuju informasi.
setelah dokter park memeriksa hyejin, dia langsung memerintahkan untuk membawa hyejin ke ICU. saira dengan segera menghubungi jaejoong, mengabarkan keadaan hyejin.
satu jam kemudian...
setelah menunggu sekian lama di depan ruang ICU, akhirnya yoochun keluar dari ruangan itu dengan tatapan serba salah.
"apa yang terjadi pada hyejin?", tanya yunho panik.
"kankernya sudah menyebar. dia sekarat. dan sudah tidak ada yang bisa kita lakukan. hanya tinggal menunggu waktu saja.", kata yoochun mengutip kalimat appanya. mendengarnya saira langsung menjadi histeris dan menangis tak henti. jaejoong hanya mampu memeluk tubuh adiknya dan menatap yoochun dengan tak percaya.
"mian... mian...", kata yoochun yang ternyata tak kuat mengatakan hal itu dan jatuh ke lantai dengan kepala tertunduk.
"hyung...", panggil changmin yang juga bingung harus berkata apa.
"andwae... andwae... aku akan menemuinya sekarang.", kata yunho gelap mata. dia berusaha menerjang pintu ICU tapi tertahan oleh jaejoong yang memeluknya dari belakang.
"lepaskan... lepaskan...", teriak yunho pada jaejoong, yang tetap menahan tubuh yunho, walaupun tubuh yunho lebih kuat darinya. akhirnya tangisan yunho pecah juga. dia berteriak tanpa menghiraukan pasien yang lain. dan terkulai lemah di lantai.
beberapa jam kemudian (intermezzo dikit)
jaejoong pov
aku bertanya dalam hati... apa yang sebenarnya terjadi di sini. apakah yang dikatakan oleh yoochun itu benar. atau ini april mop dan semua orang sedang mengerjai aku saat ini. dan di sinilah aku di depan mesin kopi otomatis, dengan perasaan super kalut. padahal beberapa jam lalu kami bertiga sedang membicarakan rencana pernikahan yunho. dia bahkan sudah menghubungi orang tuannya. dan orang tuannya akan datang besok. orang tua hyejin juga akan datang besok. makin kalut saja rasanya.
aku sudah meminta yoochun untuk mengantarkan saira yang ketiduran pulang. jam sudah menunjukkan jam 12 lewat. dan aku sedang ada rumah sakit. terasa sedikit horor. aku membawa 2 cangkir kopi untukku dan changmin. dan ketika aku berbalik, seseorang gadis mengagetkanku. untung gelas yang aku bawa tak tumpah.
"mian... aku mengagetkanmu, ya?", tanyanya.
"kau manusia atau setan?", duh kenapa aku menanyakan hal bodoh seperti ini sih, runtukku dalam hati.
"sepertinya?", dia membalik pertanyaanku.
"mian... habisnya aku tidak mendengar kau datang. jadi aku pikir ka...",
"aku pasien di sini. jadi aku datang dengan berjingkat ke sini, agar perawat tidak tahu aku kabur dari kamarku.", katanya sembari tersenyum.
"ah... manisnya.", terlontar begitu saja kata itu dari mulutku. aku langsung mengutuk diriku pada saat itu.
"apanya? apanya yang manis?",
"kopi ini yang manis.", syukur aku tadi menyeruput salah satu gelas di genggamanku.
"oh...",
"bukannya orang sakit tidak boleh minum kopi?", tanyaku begitu gadis itu menuju mesin kopi.
"aku coffeeholic... memang tidak boleh?",
"oh ya... namaku kim jaejoong. kau?",
"hyung... nunna sudah di pindahkan ke ruang isolasi.", kata changmin yang tiba2 datang untuk mengabariku. " ini kopiku kan. gomawo.", katanya sembari mengambil secangkir kopi dari tanganku dan beranjak pergi lagi.
"namaku han ji hye (ini nama siapa se? kayaknya pernah tau deh)", kata gadis itu langsung pergi begitu saja.
ruang isolasi
author POV
yunho menatap kekasihnya dengan tatapan tak berdaya. hatinya bertanya2, kapan kekasihnya akan membuka mata. kedua orang yang sedari tadi menemaninya entah ada di mana sekarang, dia buru2 menghapus air matanya yang belum bisa berhenti sepenuhnya.
di hadapannya berbaring tubuh lemah gadis yang dia cintai. muka gadis itu pucat pasi. dan kini bahkan dia tidak bisa menyentuh tubuh kekasihnya sendiri.
dari balik ruang isolasi, hyejin membuka matanya pelan. tidak punya kekuatan untuk membukanya lebar2, tapi bisa dipastikannya di luar ada seseorang yang begitu ia cintai menantinya dengan penuh harap. di sampingnya berbaring pamannya yang sedang menjaganya.
"ahjussi... ahjussi...", panggil hyejin lemah.
"nde... ada apa?", tanya pamannya.
"aku ingin bicara dengannya.", kata hyejin yang dijawab anggukan pamannya. pamannya pun segera keluar dan meminta yunho untuk masuk.
"oppa...", panggil hyejin lemah begitu yunho ada di sampingnya.
"nde... kenapa?", tanya yunho lemah.
"bawa aku pergi... aku tidak mau berada di sini lagi.", yunho langsung menoleh ke arah paman hyejin. paman hyejin hanya mengangguk tanda setuju. karena dia tau, dia sudah tidak bisa berbuat apa2 pada hyejin.
setelah dibantu paman hyejin untuk mempreteli alat di tubuh hyejin. akhirnya yunho menggendong tubuh ringan hyejin di punggungnya. di depan ruang isolasi dia berpapasan dengan jaejoong dan changmin.
"mau kau bawa kemana nunnaku?", tanya changmin.
"kau tau harus mencariku kemana, jae.", jawab yunho sembari menatap jaejoong dan beranjak pergi dari sana.
"hati-hati...", kata jaejoong tanpa menatap yunho.
"dia membawa nunnaku kemana?", tanya changmin pada jaejoong.
"tenanglah... nanti kapan2 aku antar kau menemui nunnamu.", kata jaejoong sembari menepuk punggung changmin.
3 hari kemudian, villa keluarga jung
hyejin pov
aku terbangun karena mencium bau harum masakan dari luar ruangan.
"kau sudah bangun?", tanya seseorang dari arah pintu.
"nde...", jawabku lemah.
"sarapan dulu. aku sudah membuatkanmu sarapan. mungkin tidak enak. tapi habiskan ya!", katanya. setelah dia menyuapiku sesuap dia mulai bertanya lagi bagaimana rasanya. dengan senyum tulus kukatakan padanya masakannya cukup enak.
"tadi jaejoong telepon, katanya nanti malam mereka semua akan makan. kita akan mengadakan pesta BBQ di luar. bagaimana?", tanyanya.
"orang tuamu dan orang tuaku datang?", tanyaku yang dijawab anggukan kecilnya.
malam harinya...
author pov
semua berkumpul di villa keluarga jung malam ini. amma dan appa hyejin. amma dan appa yunho. yoochun dengan saira berangkat bersama, sedangkan oppanya bilang akan datang terlambat. changmin berubah jadi anak baik2 karena ada ahjussi dan ahjummanya yang sudah dia anggap orang tuanya sendiri.
orang tua hyejin tidak bisa berhenti menangis melihat keadaan anaknya yang hanya terduduk lemah di kursi roda. dengan susah payah akhirnya hyejin bisa menghentikan kehisterisan orang tuanya. amma yunho juga menangis memperhatikan hyejin dan anaknya yang begitu berkorban untuk gadis yang ia cintai.
setengah jam kemudian. jaejoong datang dengan menggandeng seorang gadis cantik yang ia perkenalkan sebagai pacarnya.
"akhirnya kau punya pacar juga...", kata yunho.
"dia kan gadis yang di rumah sakit.", kata changmin tersadar mengenali muka gadis itu.
"annhyeong hasseyo, han ji hae imnida.", kata gadis itu dengan sopan.
"rumah sakit? memangnya kau kerja di sana?", tanya saira lugu.
"dia pasien di sana.", jelas yoochun yang ternyata dokter yang menangani ji hae.
"annhyeong hasseyo yoochun-sshi.", salamnya.
"kau punya pasien secantik ini? kenapa tidak pernah bilang?", kata saira manyun.
"kau tidak perlu cemburu. aku tidak suka gadis yang terlalu muda dariku. umurnya masih 16 tahun. lagi pula dia pacar kakakmu.", jelas yoochun panjang kali lebar.
"mwo? 16 tahun? jaejoong~ah kau benar2 sister complex ya.", kata yunho mencela sahabatnya.
"aku sister complex kau tidak rugi kan? kenapa harus sewot?", balas jaejoong. "aegiya... kau mau makan apa?", tanya jaejoong oppa pada gadis sebelahnya.
"aegiya? oppa kau membuatku muak!", kata saira.
"sirik saja kalian!", dan mereka tertawa bersama.
"kau sudah mau masuk?", tanya yunho pada hyejin yang sedari tadi mengalungkan tangannya pada tubuh yunho. hyejin mengangguk lemah menjawabnya. "maaf ya... aku tinggal sebentar.", kata yunho sembari menunjuk hyejin.
"maaf ya semua.", kata hyejin yang berada dalam gendongan yunho yang membawanya ke dalam kamar.
"oppa... kalau aku sakit kau akan memperlakukanku seperti itu kan?", tanya saira pada yoochun.
"entahlah.", jawab yoochun yang sedang asyik makan.
"ya~ kau tidak mencintaiku ya?", tanya saira.
"kau itu posesiv sekali sih? tentu saja aku akan seperti itu, tapi kalau kau menjadi istriku nanti.", jawab yoochun.
"mwo? jadi kalau sekarang, aku tidak penting bagimu, ya?", tanya saira marah.
"makanya sekarang aku bertanya padamu. kau mau tidak menikahiku?", tanya yoochun jujur.
"mwo?", pertanyaan itu membuat muka saira merah dan membuat yang lainnya geli.
"aissh... sudahlah... kapan2 saja kau jawab pertanyaanku.", kata yoochun yang sekarang ikut2an memerah.
"oppa... kau kapan melamarku?", tanya ji hae pada jaejoong,
"mwo? kau masih kecil, jangan pikirkan hal2 yang aneh seperti itu. lebih baik kau fokus pada operasimu bulan depan dan ujian masuk sma sebentar lagi.", jawab jaejoong. "kalian telah merusak pikiran pacarku yang polos!", katanya ditujukan pada yoochun dan saira,
dan malam itu pun berlalu dengan gelak tawa yang tak pernah usai. bahkan ketika yunho kembali. dan kedua orang tua mereka pulang,
keesokkan harinya...
seorang gadis memandang pria yang sedang tertidur pulas di sampingnya. tangannya meraba wajah pria itu dengan lembut. mata2 pria tersebut terbuka perlahan. dan tersenyum manis pada si gadis.
"oppa, aku sudah tidak tahan lagi.", kata gadis itu.
"maksudmu?",
"aku lelah.",
"kau tidak boleh.",
"oppa maaf, aku mungkin tidak bisa menemanimu di hari jadimu besok. tapi aku sudah minta pada teman2mu untuk menyiapkan acara. kau harus datang ke sana ya!",
yunho kemudian memeluk tubuh kecil hyejin dengan lembut.
"nde... aku janji.",
Angin bertiup dari jendela yang memang sengaja dia buka.
Mata hyejin sembab kebanyakan mengeluarkan air mata. Bibirnya membiru. Mukanya pucat.
Air mata yunho meleleh tak tertahankan.
"oppa...",
"hem?",
"sarang heyo...",
"nado... Nado saranghae", balas yunho sembari mengecup lembut bibir si gadis.
"oppa... Aku lelah... Aku tidur dulu ya.", kata hyejin yang dijawab dengan anggukan lemah dan lelehan air mata yunho.
"jangan menangis, aku tak kan pergi ke mana-mana",
"arasso... Tidurlah... Kau lelah kan?",
"hyejin~ah... hyejin~ah...", panggil yunho masih mendekap tubuh hyejin. "hyejin~ah... bangun. kau dengar aku kan? hyejin~ah...", panggil yunho sembari menggoyang2kan tubuh hyejin. air matanya tumpah lagi setelah beberapa saat berhenti.
"saranghae... sarangheyo hyejin~ah.", kata yunho sembari mengecup bibir tubuh yang sudah tak bernyawa. dan dia terus menangis tanpa ada yang menghentikannya...
yunho POV
besok tanggal 6 februari. harusnya menjadi hari membahagiakanku karena hari itu adalah hari jadiku. tapi entahlah, air mataku tak berhenti juga. orang2 di sampingku pun tak ada yang berniat menghentikan tangisan mereka. di sampingku berdiri sahabatku yang sedari tadi merangkulku.
gerimis turun sore ini, chagiya. mengiringi kepergianmu. bahkan alampun menangis untukmu. kau tetap terlihat cantik secantik gaun yang sengaja kita pesan untuk pernikahan kita. dengan langkah sedikit gontai, ku dekati tempat istirahat terakhirmu dan menciummu di kening untuk terakhir kali. kuambil cincin di jari manismu, dan jadikan kalung bersama dengan cincinku. mereka yang akan menemaniku mulai sekarang.
air mataku terus menetes tanpa henti melihat jasad hyejin dikebumikan. hatiku juga ikut bersamanya. dan aku tidak yakin akan menjadi orang yang sama atau tidak setelah dia pergi.
"kami menunggumu di sky life, datanglah tengah malam nanti.", kata jaejoong membuyarkan lamunanku.
setelahnya aku langsung menuju villa, tempatku dan dia menghabiskan waktu terakhirnya. kudapati banyak foto kami bersama yang diambil lewat kamera polaroidnya. air mataku kembali menetes. aku ingin marah pada Tuhan. tapi kau pasti akan benci padaku kalau aku melakukannya.
aku ingin memutar waktu dan bertemu denganmu lebih awal agar aku bisa membahagiakanmu lebih lama. tapi aku bukan dewa. aku hanya lelaki yang terlanjur mencintaimu tanpa alasan. dan sekarang aku merasa hancur saat kau menghilang dari hadapanku. hyejin~ah saranghae.
tanpa ku sadari, jam di tanganku sudah menunjukkan jam 11 malam. dan butuh hampir sejam untuk pergi dari villa ini menuju sky life cafe. dengan enggan ku ambil jasku dan menuju ke mobil. aku bahkan masih mengenakan baju berkabungku. dengan kecepatan rata2 aku melajukan jalanku ke sky life cafe.
sesampainya di sky life cafe, aku tidak mendapati seorang pun di sana. yang ada hanya gelap. aku lihat jam tanganku menunjukkan jam 11 kurang 5 menit. 5 menit lagi ulang tahunku. karena tak mendapati siapapun di sana, akhirnya aku memutuskan kembali. ketika aku berbalik ku lihat beberapa lilin yang tadi memang tak terlalu aku perhatikan menuju ke teras belakang lewat pintu samping.
dengan segera ku ikuti arah lilin hingga ke teras belakang. sepi. tidak ada siapapun. bahkan lebih gelap tanpa cahaya kecuali cahaya bintang yang berpenjar di atas langit.
saengil chukae hamnida~
saengil chukae hamnida~
saengil chukae yunho oppa~
saengil chukae hamnida~
nyanyian selamat ulang tahun itu. membuat yunho terperanjat. bukan apa. tapi dia mendengar suara hyejin dari belakang. dan ketika menoleh kebelakang. dia mendapati semua temannya di sana, dan membelah menunjukkan layar yang menampilkan gadis yang ia cintai.
"kau ingat kau pernah memberikan ku surat. sekarang aku akan membalasnya.
oppaku sayang,
tentu kau boleh tetap memanggilku hyejinku. karena selamanya aku lee hye jin mu.
aku juga tidak terlalu pandai menulis. makanya aku memberimu rekaman ini.
aku tahu siapa sahabat yang kau maksud. dan aku berterima kasih padanya.
aku tahu aku pasti akan menghancurkanmu lagi.
tapi aku ingin kau berusaha bangkit, karena aku tidak menginginkan kau terpuruk dalam kesedihanmu.
saira terus saja berkata padaku, "kau harusnya merasa beruntung mendapatkannya. karena dia sangan mencintaimu.".
aku tidak tega mengatakannya, tapi sekarang kau akan mengerti bagaimana perasaannya. belajarlah darinya.
jenguk aku bila kau merindukanku.
saat saira bertanya padaku, aku bertanya pada diriku sendiri
"mampukah kau hidup tanpa dia? tanpa kau? tanpa jung yun ho?".
aku jawab, "aku tidak tahu apa jadinya aku tanpa dia... tapi aku lebih tidak bisa berpikir bagaimana dia tanpaku. apa dia akan baik2 saja? apa dia akan hidup dengan bahagia?"
tapi kau harus tahu, aku ingin kau bahagia. aku ingin kau pergi mencari kebahagianmu.
aku tahu kita menghabiskan banyak waktu dengan kebahagian. tapi maaf aku sudah tidak bisa berada di sampingmu lagi, walau ingin.
dan aku akan menjawab pertanyaanmu.
kau pasti akan baik2 saja.
kau pasti mampu hidup tanpamu.
karena kau saja yang merasa kehilangan, aku juga kehilangan dirimu.
beberapa hari terakhirku ini, kau sudah mengukir kenangan indah untukku. terima kasih.
saengil chukae oppa...
sarangheyo."
dan layarpun mati. di gantikan dengan terang di belakangku. air mataku yang menetes segera kuhapus dan segera menoleh ke arah mereka semua.
"saengil chukae yunho~ah...", ucap jaejoong sembari memberikan kembang api padaku.
"saengil chukae yunho...", teriak mereka.
"gomawo...", jawabku lirih dengan tersenyum. ini senyuman pertamaku hari ini. dan aku harus berterima kasih pada hyejin, karena kau memperkenalkanku banyak kebahagian di hiduku.
~fin~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar