20130525

Me Vs Jogja - Jogja vs orang tua



      Mungkin hampir semua anak yang berasal dari luar kota, selalu mendapatkan wejangan dari orang tua mereka ketika mereka akan meninggalkan kota tempat tinggal mereka untuk pergi merantau ke luar kota. Paling banyak mungkin adalah kalimat, “ati-ati kalau bergaul”, “jangan lupa makan”, “jangan lupa ibadah”, dan jangan lupa jangan lupa lainnya. Untuk beberapa orang pasti merasa “please deh aku udah gedhe, udah tau mana yang buruk atau gak”. Tapi, sadarkah bahwa selamanya kita tetap anak-anak di mata mereka.
Orang tua di sini adalah orang tua ku, orang tua mu, dan orang tua siapa saja yang mempunyai anak kuliah di Jogja. Jogja bukan tempat yang ramah untuk orang-orang dari pelosok walaupun tetap tidak sekeras kehidupan di ibu kota negara kita ini, Jakarta. Di Jogja masih banyak orang baik, ramah, dan peduli dengan sekitar.
      Awal melangkahkan kaki di Jogja, mama adalah orang yang paling khawatir dengan kehidupanku selama di Jogja. Setiap hari sms, telepon, tanya “kapan pulang?”, dan selain sebagainya. Tapi hal itu berubah ketika aku mulai betah berada di Jogja dan enggan untuk pulang. Bahkan ketika aku pulang aku tidak merasa senyaman di Jogja. Aku tidak tahu di mana letak perlengkap dapur ketika akan memasak. Aku tidak tahu di mana aku harus meletakkan barang-barangku ketika aku pulang. Karena setiap pulang selalu saja ada yang berubah. Tempat yang seharusnya aku panggil rumah terasa asing di mataku. Malah kos yang aku tinggali selama 5 tahun ini jauh lebih familiar di hidupku.
     Ada hal yang paling ditakutkan ketika aku pulang. Ketika mereka bertanya kapan mau lulus? Aku tentu saja mau lulus, tapi aku tidak ingin meninggalkan Jogja. Di kota inilah aku tinggal lebih lama dari tempat manapun di Indonesia. Orang tua ku merupakan karyawan perusahaan BUMN yang harus bersedia ditempatkan di kota-kota di Indonesia. Selama SD saja aku sudah pindah sampai 4 kali, SMP di kota yang lainnya, SMA di Malang, dan kuliah di Jogja. Sementara di kota lain paling lama hanya 4 tahun, di Jogja aku menghabiskan waktu lebih dari 4 tahun, dan hidup jauh dengan orang tua sudah sering aku lalui sejak orang tuaku memutuskan membeli rumah di Malang. Jujur aku merasa lebih nyaman tinggal sendiri di luar pengawasan orang tua. Bukannya merasa tidak butuh. Dengan hidup sendiri aku jadi bisa lebih bertanggung jawab pada kehidupan walau tetap aku tidak bisa mengambil keputusan tanpa ACC orang tua. Tapi aku ingin membuktikan pada orang tuaku kalau aku sudah bisa hidup sendiri. Walau tidak jarang merepotkan dan membuat mereka khawatir karena kesehatanku, tetap saja aku merasa lebih baik begini.
      Aku dan mama adalah dua orang dengan watak yang sama-sama keras. Aku selalu tidak bisa terima dengan segala keputusan dan memendam semuanya dalam hati sampai pada saat tertentu akhirnya meledak, dan aku baru sadar bahwa beliau juga begitu. Aku sering berselisih dengan beliau ketika kami masih tinggal di bawah satu atap. Entah berapa kali aku menyakiti perasaannya. Mama adalah orang pertama yang tidak rela ketika aku bilang tidak ingin kuliah di Malang atau Surabaya. Keputusanku saat itu sudah bulat, aku akan pergi sejauh mungkin, agar tidak sering menyakiti beliau. Sementara bapak (aku memanggil orang tua kandungku dengan sebutan mama dan bapak), beliau adalah orang yang keras di luar, namun sangat halus di hati. Walaupun akan marah ketika tahu apa yang aku lakukan, dia hanya akan membiarkannya toh juga sudah terjadi. Ketika aku bilang ada 3 pilihan kota yang aku ingin tuju, pilihan pertama Jakarta, IKJ atau UI, Bandung ITB atau Unpad, dan Jogja UGM. Bapak bilang terserah aku, sedangkan mama, beliau langsung bilang “Jakarta itu keras, dek. Bandung kejauhan. Udah Jogja aja.”, aku harus berterima kasih atas saran beliau sekarang. Karena karenanya, aku menjadi diriku yang sekarang.
       Jauh dengan orang tua membuat banyak anak muda yang baru keluar dari rumah jadi keluar jalan. Ingin mencoba ini itu, dan akhirnya terperosok dan susah untuk kembali. Tapi karena ada keteguhan hati bahwa aku tidak mau mengkhianati kepercayaan mereka, hingga saat ini aku tidak pernah melakukan hal-hal yang merugikan seperti memakai narkoba, mengenal klub malam, atau mungkin sex bebas. Bukannya tidak penasaran, tapi aku masih punya Tuhan dan aku masih punya keluarga yang tidak akan senang ketika mendapatkan kabar bahwa anaknya melakukan hal-hal terlarang seperti itu.
      Walaupun terlepas dari hal-hal seperti itu, aku masih belum bisa dianggap dapat membanggakan mereka. Kuliah lima tahun ini saja aku tidak bisa menyelesaikan dengan segera. Salahkan aku yang terlalu malas dan terlalu santai menghadapi semuanya. Mungkin ketika aku bilang rahasiaku yang paling dalam, mereka akan kaget dan menyalahkan aku habis-habisan. Tapi aku ingin menyelesaikannya sendiri hingga aku tidak bisa bernafas lagi. Aku benar-benar ingin membuktikan pada mereka bahwa aku bisa mandiri dan membuat mereka tidak menyesal telah mengirimku ke kota ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar