Mungkin
hampir semua anak yang berasal dari luar kota, selalu mendapatkan wejangan dari orang tua mereka ketika
mereka akan meninggalkan kota tempat tinggal mereka untuk pergi merantau ke
luar kota. Paling banyak mungkin adalah kalimat, “ati-ati kalau bergaul”, “jangan
lupa makan”, “jangan lupa ibadah”, dan jangan lupa jangan lupa lainnya. Untuk beberapa
orang pasti merasa “please deh aku udah gedhe, udah tau mana yang
buruk atau gak”. Tapi, sadarkah bahwa
selamanya kita tetap anak-anak di mata mereka.
Orang
tua di sini adalah orang tua ku, orang tua mu, dan orang tua siapa saja yang
mempunyai anak kuliah di Jogja. Jogja bukan tempat yang ramah untuk orang-orang
dari pelosok walaupun tetap tidak sekeras kehidupan di ibu kota negara kita
ini, Jakarta. Di Jogja masih banyak orang baik, ramah, dan peduli dengan
sekitar.
Awal
melangkahkan kaki di Jogja, mama adalah orang yang paling khawatir dengan
kehidupanku selama di Jogja. Setiap hari sms, telepon, tanya “kapan pulang?”,
dan selain sebagainya. Tapi hal itu berubah ketika aku mulai betah berada di
Jogja dan enggan untuk pulang. Bahkan ketika aku pulang aku tidak merasa
senyaman di Jogja. Aku tidak tahu di mana letak perlengkap dapur ketika akan
memasak. Aku tidak tahu di mana aku harus meletakkan barang-barangku ketika aku
pulang. Karena setiap pulang selalu saja ada yang berubah. Tempat yang
seharusnya aku panggil rumah terasa asing di mataku. Malah kos yang aku
tinggali selama 5 tahun ini jauh lebih familiar
di hidupku.
Ada
hal yang paling ditakutkan ketika aku pulang. Ketika mereka bertanya kapan mau
lulus? Aku tentu saja mau lulus, tapi aku tidak ingin meninggalkan Jogja. Di kota
inilah aku tinggal lebih lama dari tempat manapun di Indonesia. Orang tua ku
merupakan karyawan perusahaan BUMN yang harus bersedia ditempatkan di kota-kota
di Indonesia. Selama SD saja aku sudah pindah sampai 4 kali, SMP di kota yang
lainnya, SMA di Malang, dan kuliah di Jogja. Sementara di kota lain paling lama
hanya 4 tahun, di Jogja aku menghabiskan waktu lebih dari 4 tahun, dan hidup
jauh dengan orang tua sudah sering aku lalui sejak orang tuaku memutuskan
membeli rumah di Malang. Jujur aku merasa lebih nyaman tinggal sendiri di luar
pengawasan orang tua. Bukannya merasa tidak butuh. Dengan hidup sendiri aku
jadi bisa lebih bertanggung jawab pada kehidupan walau tetap aku tidak bisa
mengambil keputusan tanpa ACC orang tua. Tapi aku ingin membuktikan pada orang
tuaku kalau aku sudah bisa hidup sendiri. Walau tidak jarang merepotkan dan
membuat mereka khawatir karena kesehatanku, tetap saja aku merasa lebih baik
begini.
Aku
dan mama adalah dua orang dengan watak yang sama-sama keras. Aku selalu tidak
bisa terima dengan segala keputusan dan memendam semuanya dalam hati sampai
pada saat tertentu akhirnya meledak, dan aku baru sadar bahwa beliau juga
begitu. Aku sering berselisih dengan beliau ketika kami masih tinggal di bawah
satu atap. Entah berapa kali aku menyakiti perasaannya. Mama adalah orang
pertama yang tidak rela ketika aku bilang tidak ingin kuliah di Malang atau
Surabaya. Keputusanku saat itu sudah bulat, aku akan pergi sejauh mungkin, agar
tidak sering menyakiti beliau. Sementara bapak (aku memanggil orang tua
kandungku dengan sebutan mama dan bapak), beliau adalah orang yang keras di
luar, namun sangat halus di hati. Walaupun akan marah ketika tahu apa yang aku
lakukan, dia hanya akan membiarkannya toh
juga sudah terjadi. Ketika aku bilang ada 3 pilihan kota yang aku ingin tuju,
pilihan pertama Jakarta, IKJ atau UI, Bandung ITB atau Unpad, dan Jogja UGM. Bapak
bilang terserah aku, sedangkan mama, beliau langsung bilang “Jakarta itu keras,
dek. Bandung kejauhan. Udah Jogja aja.”,
aku harus berterima kasih atas saran beliau sekarang. Karena karenanya, aku
menjadi diriku yang sekarang.
Jauh
dengan orang tua membuat banyak anak muda yang baru keluar dari rumah jadi
keluar jalan. Ingin mencoba ini itu, dan akhirnya terperosok dan susah untuk
kembali. Tapi karena ada keteguhan hati bahwa aku tidak mau mengkhianati
kepercayaan mereka, hingga saat ini aku tidak pernah melakukan hal-hal yang
merugikan seperti memakai narkoba, mengenal klub malam, atau mungkin sex bebas. Bukannya tidak penasaran,
tapi aku masih punya Tuhan dan aku masih punya keluarga yang tidak akan senang
ketika mendapatkan kabar bahwa anaknya melakukan hal-hal terlarang seperti itu.
Walaupun
terlepas dari hal-hal seperti itu, aku masih belum bisa dianggap dapat
membanggakan mereka. Kuliah lima tahun ini saja aku tidak bisa menyelesaikan
dengan segera. Salahkan aku yang terlalu malas dan terlalu santai menghadapi
semuanya. Mungkin ketika aku bilang rahasiaku yang paling dalam, mereka akan
kaget dan menyalahkan aku habis-habisan. Tapi aku ingin menyelesaikannya
sendiri hingga aku tidak bisa bernafas lagi. Aku benar-benar ingin membuktikan
pada mereka bahwa aku bisa mandiri dan membuat mereka tidak menyesal telah
mengirimku ke kota ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar